Misteri 3 PR
Suatu hari, seorang anak perempuan mengerjakan PR dari guru, dari kelas, dari sekolah, dari kurikulum yang baru saja ditetapkan: “Adab dan Peradaban”.
Di sana ada 3 PR.
PR pertama, pelajaran Antropologi yang terhitung luas akan sosial, budaya,
politik; yang kesemuanya dibalut sejarah. Perihal sistem sosial misoginis jahiliyah,
anak perempuan adalah aib yang semerta-merta bisa saja menempelkan tai
di wajah keluarga. Maka pencekokan mati untuk hidupnya anak perempuan adalah
cara pembersihan tai yang paling ampuh, cepat;
Juga budaya yang menjunjung self-improvement atau malah perternakan, bahwa
perempuan harus dipingit adat bagai burung dalam kurung, hingga datangnya
pembeli yang berani membayar untuk sebuah pernikahan yang bukan, belum berarti
bebas atas kurung entah murung;
Hingga, politik, terkesan begitu keji untuk tujuan terpuji. Kata Jugun
Ianfu itu disiram basah mani, keringat, air mata, darah, dan percik kencing
penjajah yang tak peduli itu kemanusiaan atau hanya sebatas pribumi. Basah yang
resah, tanpa segar penuh jijik.
Ia terhuyung, murung. Entah bual atau menahan mual, “lebih baik, aku
mengerjakan pelajaran yang lebih mudah terlebih dahulu!” Ucapnya di akhir,
sebelum atau takan.
PR kedua, pelajaran Matematika. Ia tidak begitu gusar payah: tinggal
memasukan rumus, lalu menghitung? Ia mulai membaca perlahan.
Secara umum, data kekerasan terhadap perempuan dari
Komnas Perempuan, lembaga layanan dan Badan Peradilan Agama (BADILAG) mengalami
penurunan (55.920 kasus atau sekitar 12%) dibandingkan tahun 2022 yaitu menjadi
401.975 dari 457.895. Tingkat respon pengembalian kuesioner Catahu 12%, terjadi
penurunan jika dibandingkan dengan tahun 2022 sebanyak 25%. Pengembalian kuesioner
Catahu 2023 sebanyak 123 dari pengiriman kuesioner sebanyak 993.
Ia menerka, ia tak menyangka, “soal macam apa, ini? Soal dengan rumus yang
mana?”
Perempuan itu beralih untuk mencoba peruntungan dari kegilaan baris PR-PR
menuntut kewarasan, tengat.
PR ketiga, pelajaran Agama.
Belum saja pertanyaan, baru kalimat naratif deskriptif, sebuah bunyi hadits
dari banyaknya hadist yang lain: yang belum terbaca, tak sanggup menerus baca.
وَقمْتُ عَلَى بَابِ النَّارِ، فَإِذَا عَامَّةُ
مَنْ دَخَلَهَا النِّسَاءُ
“Saya (Rasulullah Saw) berdiri di depan pintu
neraka. Kebanyakan orang yang masuk neraka adalah perempuan.” (HR. Bukhari,
Muslim, dan Tirmidzi).
“Wah, ini PR-PR macam, apa?” Protesnya di sebelum sumpah serapah meracau
mengudara.
Entah mengapa, membaca surat dari mantan, -dari pada PR-PR penuh kegilaan
itu- dirasa lebih menenangkan dan manis.
Kalau sekedar wangi, kuburan
baru juga wangi. Kalau sekedar manis, dahak ijo juga manis. Kalau sekedar lembut, terpa
kentut juga lembut. Kalau sekedar cantik, gocekan Messi juga cantik. Sebenarnya apa yang mau kalian banggakan, Perempuan?
“Surat itu berakhir tanya dan sentimen, siapa dan bagaimana cara
mengerjakan PR-PR ini?”
Asma binti Yazid al-Anshariyah, Khansa binti Khidani, Syajaratuddur,
Benazir Bhuto, Emmeline Pankhurst, Pandita Ramabai, Toshiko Kishida, Alexandra
Kollontai, dan R.A. Kartini menggeleng tangis dalam buai terpa angin zaman.
*Penulis yang lahir di Bekasi ini bernama lengkap Aqna Mumtaz Ilmi Ahbati
yang terlalu bingung untuk menentukan cita-citanya yang entah menjadi penulis,
onthelis, atau paleontologis.
Komentar
Posting Komentar