Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2024

Misteri 3 PR

Suatu hari, seorang anak perempuan mengerjakan PR dari guru, dari kelas, dari sekolah, dari kurikulum yang baru saja ditetapkan: “Adab dan Peradaban”. Di sana ada 3 PR. PR pertama, pelajaran Antropologi yang terhitung luas akan sosial, budaya, politik; yang kesemuanya dibalut sejarah. Perihal sistem sosial misoginis jahiliyah, anak perempuan adalah aib yang semerta-merta bisa saja menempelkan tai di wajah keluarga. Maka pencekokan mati untuk hidupnya anak perempuan adalah cara pembersihan tai yang paling ampuh, cepat; Juga budaya yang menjunjung self-improvement atau malah perternakan, bahwa perempuan harus dipingit adat bagai burung dalam kurung, hingga datangnya pembeli yang berani membayar untuk sebuah pernikahan yang bukan, belum berarti bebas atas kurung entah murung; Hingga, politik, terkesan begitu keji untuk tujuan terpuji. Kata Jugun Ianfu itu disiram basah mani, keringat, air mata, darah, dan percik kencing penjajah yang tak peduli itu kemanusiaan atau hanya sebatas...

Sebuah Catatan: Bagaimana Kaum Perempuan Meraba Kemerdekaan?

Tulisan serius ini dibuka dengan konsep Determinisme History dalam ilmu Sosiologi yang mengatakan, bahwa kehidupan dibagi ke dalam 4 periode: 1.      Zaman alami. 2.      Zaman dominasi lelaki. 3.      Zaman protes kaum perempuan. 4.      Zaman persamaan hak antara lelaki dan perempuan. Tentu fokus kita dewasa ini, adalah terkait paham kesetaraan gender. Dengan itu, lalu, benarkah keyakinan itu telah berlaku? Atau mungkin kembali mati? Untuk mendapatkan jawabannya, mari kita menilik sejarah, sebentar dan sedikit saja. Mengutip buku Monolog Cinta , dikatakan: ”Bangsa Yunani kuno menganggap wanita sebagai harta benda kekayaan yang tak berharga. Sehingga diperjualbelikan secara terbuka di pasar-pasar sebagai budak dan dihinakan tanpa memiliki hak waris. Di Romawi kuno akad pernikahan sama dengan akad pertuanan, artinya secara formal suami membeli istri. Di Arab Pra-Islam, kaum wanita sangat ter...