Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2024

Rekam Jejak

Attention, I’lan, dan Pemberitahuan! Menimbang kenyataan bahwa literasi mengalami degradasi dan PGMI punya wadah berupa blog yang bisa diisi, bagaimana sudi kiranya bagi teman-teman yang budiman untuk memberikan andil dan sumbangsih tulisan atau apapun yang bisa ditulis untuk blog ini. Bagus nggak bagus, penting nggak penting, sedikit atau banyaknya tetap diterima dan dipandang sama. Nggak ada tulisan yang buruk. Setiap tulisan memiliki kualitasnya tersendiri. Karena, “Tulisan yang baik adalah tulisan yang selesai!” Begitupun untuk yang belum selesai, hanya dinilai kurang baik. Tetap nggak buruk. Entah, bebas, apapun: kreasi, inovasi, informasi, apresiasi, aspirasi, asimilasi, konsolidasi, konspirasi, abdikasi, navigasi, separasi, vakansi, legasi, hipokrisi, proyeksi, demagogisi dan pedagogisi, superlasi, narasi nativisi, egalisi, eksepsi, demarkasi, rektifikasi, stimulasi, fisiognomasi, osilasi, skeptisi, intuisi, palmistri, juga puisi atau qoute-qoute motivasi. Baik fiksi atau non fi...

Tangga dan Tinggi

Oleh: Aqna Mumtaz Ilmi Ahbati Dalam segala hal, sudah sepatutnya kita berusaha, berikhtiar. Karena memang seperti itu konsep dan alurnya hidup: ikhtiar, do’a, dan tawakal. Kita terlepas dari 3 hal itu. Harus lengkap, dan lengkap nggak boleh adanya berkurang salah satu darinya. Kali ini, gua pengen ngebahas ikhtiar usaha itu sendiri. Betapa penting dan perlu diperhatikannya usaha dalam setiap tuju gerak kita. Betapa serius, mungkin perlunya gua menyatir dalil lain biar lu percaya: bahwa usaha itu penting. وَأَن لَّيْسَ لِلْإِنسَٰنِ إِلَّا مَا سَعَىٰ “Dan bahwasanya seorang manusia tidak memperoleh apa pun selain apa yang telah diusahakannya.” (QS. An-Najm ayat 39). Udah satu aja. Sisanya cari sendiri: usaha! Betapa pentingnya usaha dan gerak ini, karena memang menjadi step awal dari 3 susunan step yang ada. Sebelum ke do’a dan tawakal, kita harus berikhtiar terlebih dahulu. Dan betapa seringnya, kita begitu lemah di step awal ini. Malah lemah sedari step awal ini. Seringny...

Partai

Oleh: Aqna Mumtaz Ilmi Ahbati Semua setuju, ilmu adalah kunci bahagia dunia akhirat. Nggak perlu dalil-dalil. Dengan putaran waktu yang membawa pada zaman yang menuntut perfeksionis, juga tentang kuantitas dan kualitas. Gua rasa santri adalah figure yang absolut akan intelektual dan intergral yang intact. Bukan tentang kaum proletary, marhaenisme, murba, inferior, atau Burundi sekalipun. Haha, We are The Gate of Knowledge! Santri, dengan sisi formal dan agamanya, nggak ayal untuk semat cerdas intelektual dan kokoh spiritual. Nggak harus melulu membahas tentang sisi keagamaan dan indah susasana di kota santri, sekali-kali kita bahas sisi formal, sisi dunia intelektualnya; Kampus. Santri, para mahasiswa-mahasiswi itu, tentu baik dan boleh-boleh saja untuk fanatik terhadap ilmu. Fanatik kan juga merupakan bentuk ghirah dan totalitas kita dalam belajar. Tapi, yang nggak baiknya itu jika sudah harus merendahkan orang lain. Bagaimana bisa? “Apa hebatnya PGMI?” “PGMI bisa, apa?” ...