Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2024

Kita Bisa Lebaran Setiap Hari

Oleh: Aqna Mumtaz Ilmi Ahbati Lebaran adalah momen yang ditunggu-tunggu oleh umat muslim. Selain karena limpahan ganjaran di bulan Ramadhan, menandakan berhasilnya kita melawan hawa nafsu lapar dahaga dan hal-hal ketaatan selama sebulan penuh. Idhul fitri. Kembali fitrah, suci. Selain itu lebaran juga penuh suka, tak ayal lebaran dijadikan hari raya umat islam yang selalu dinanti-nanti. Tapi, ternyata kita bisa lebaran setiap hari. Tidak perlu menunggu Ramadhan dengan segala hal a ng rintang. Sekali lagi, kita bisa lebaran setiap hari. Lebaran selain identik dengan kegembiraan, juga tentang silahturahmi, maaf-maafan, berbagi makanan, dan lainnya. Inilah hal inti dari makna lebaran dengan segala kebahagiaan. Pertama, silahturahmi. Pertemuan antar keluarga, kerabat, tetangga, hingga handai taulan dan teman menjadi suatu yang dinanti ketika lebaran. Hidup dengan segala kesibukannnya masing-masing membuat menjadi momen yang tepat dalam pertemuan yang cepat. Tapi, untuk bersilahturahm...

Idul Fitri: Hari Raya, (Bukan) Hari Riya

Bagi sebagian orang, Idul Fitri adalah momen yang ditunggu-tunggu. Momen yang digunakan semaksimal mungkin untuk bertemu dan rindu-rindu. Suami pada istri, anak pada orang tua, saudara pada keluarga, teman pada sebaya, dan kekasih pada kekasih. Luang untuk mereka yang tersayang. Karena memang, Idul Fitri selalu dijadikan hari libur bersama. Setiap orang punya libur yang sama, meski dengan bahagia yang berbeda. Itu mengapa, dalam menyambut Idul Fitri, orang-orang memiliki cara bahagianya masing-masing: ada yang memilih mudik ke kampung halaman dan ada yang tidak mudik ke kampung halaman, entah mereka yang memang tidak punya kampung atau mungkin karena mereka yang belum ada kesempatan untuk pulang. Dengan begitu, bukan tentang bahagia mana yang kita ingin, tapi bahagia mana yang kita butuh: maka ciptalah bahagia itu! Idul Fitri adalah puncak harapan. Setelah berpanjang usaha dan mendalam do’a selama Ramadhan, sudah seharusnya Idul Fitri adalah Rahmat yang paripurna. Begitu didamba, hingg...

Lebaran adalah Momen Kesadaran

Oleh: Aqna Mumtaz Ilmi Ahbati  Lebaran adalah momen kesadaran. Setelah kita berlelah-lelah puasa menahan haus dahaga, juga nafsu amarah, lebaran adalah momen puncak perjuangan. Momen yang dinanti-nanti oleh seluruh umat Islam. Dengan hati yang kembali bersih setelah puasa, sebersih bayi yang baru dilahirkan, kita sudah jauh-jauh hari menyiapkan lebaran ini. Menyiapkannya untuk segala totalitas ibadah di bulan Ramadhan. Lalu, terhadiahkan lebaran untuk balasannya. Lebaran penuh suka cita. Selain momen luap rindu-rindu bagi mereka yang jauh: suami pada istri, anak pada orang tua, saudara pada keluarga, teman pada sebaya, ataupun kekasih pada kekasih. Mereka meluapkannya di momen itu. Lebaran juga penuh sarat akan makna. Kekeluargaan begitu terasa, saling maaf-memaafkan, juga saling beri-memberi. Semua terasa begitu indah. Sudah dari gelap subuh lantunan takbir bergema memenuhi angkasa. Kita serempak pergi ke masjid untuk sholat Ied dengan pakaian terbaru dan bersih, sebersih hatinya ...

Mari Menangis, Ramadhan Hampir Habis

 Oleh: Aqna Mumtaz Ilmi Ahbati   Ramadhan adalah bulan harap. Ya, semua Umat Islam berharap banyak pada bulan ini. Berharap menjadi lebih taat, berharap diterima semua ibadah, berharap diampuni segala salah, dan berharap bisa bertemu Ramadhan kembali dengan penuh resah. Kita isi bulan ini dengan berbagai macam kebaikan. Mulai dari sahur kita bangun qiyamul lail, makan bersama, sholat subuh berjama’ah, tadarus membaca Al-Qur’an, mendengarkan kuliah dhuha, sedekah berbagi takjil, tarawih, hingga silaturahim dengan berbagai agenda buka bersama. Itu semua kita lakukan semata-mata mengharap ridho Allah Swt. Berharap menjadi sebaik-baiknya manusia. Berharap bersih kembali.    Begitu istimewanya Ramadhan. Segala gegap gempita islam begitu terasa di bulan ini. Semua orang berlomba-lomba dalam kebaikan. Mereka kerahkan semua usaha dan do’a cuma-cuma penuh tulus ikhlas. Lalu, Allah membalasnya tidak terbilang. Penuh ganda. Oleh karena itu, dengan segala keistimewaan ...

Rajut Temu

 Oleh: Aqna Mumtaz Ilmi Ahbati   Menitik, di ujung detik.          Masih dalam belalak mencari udara menuju kesadaran utuh.     Sungguh, ini yang kita butuh: tiba. Ia melambai, tak lama memeluk. Ramadhan, tamu agung itu terkasih, menjadikannya kekasih. Tak ubahnya semilir di kelopak putik, rintik di tandus kerontang, atau kabar di hilang dan temu.           Kuperkenalkan diri, di lembar gelar kertas kuning, di antara huruf tak berharokat, seberis kata santri dan perjuangan. Menerka gelap, menuju lelap: kan kuhidupi malam-malammu dengan rukuk sujud penyembahan. Menapak terang, menghancur karang: kan kurajut siang-siangmu dengan baca tulis keilmuan.         Tanpa dipinta, merekah senyum, ganjaran dan ampunan kau beri tanpa perhitungan. Lailatu Qadr, malam yang lebih baik dari seribu bulan, adalah cita-cita yang berkepanjan...

Puasa itu Menderitakan Sekaligus Memulihkan

 Oleh: Aqna Mumtaz Ilmi Ahbati “Puasa itu menderitakan sekaligus memulihkannya!” Sebaris kata di halaman 69, baris ke 18 dari atas, cukup membuat saya termenung. Dari sebuah buku yang memiliki 47 judul pembahasan, pada suatu judulnya yang berisi 114 baris, KH. Husein Muhammad begitu cerdas, bijak, lagi dalam untuk pembahasan puasa di salah satu buku hebatnya,   Islam . Sudah seharusnya, Ramadhan adalah bulan tarbiyah. Dalam sebulan penuh ini kita dididik dan dilatih dengan berbagai ibadah dan perilaku baik lainnya, dari berbagai sisi dan aspek, juga lapis dan unsur, atau lingkup dan naung. Itu mengapa, pada saat Ramadhan, begitu banyaknya kajian yang digelar, acara tv atau konten video, juga di gebu khutbah jum’at ataupun kultum-kultum menunggu waktu berbuka. Karena memang, Ramadhan menjadi bulan diturunkannya absolute foundation dalam aspek hukum, pegangan, dan pengajaran: Al-Qur’an. شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنٰتٍ ...

Sepuluh Terakhir Ramadhan dan Kisah Heroik Haitsam Jamal, Syuhada Palestina

Oleh: Aqna Mumtaz Ilmi Ahbati Bagi seluruh Umat Muslim, Ramadhan tentu memiliki makna suka cita. Kita mengisi bulan ini dengan berbagai ibadah dan kebaikan, mengharap ridho Allah Swt. Apalagi di sepuluh bulan terakhir Ramadhan menjadi momen totalitas seorang muslim untuk menjemput ridho-Nya, juga harap cemas lailatul qadar dan apakah bisa menemui Ramadhan berikutnya. Tak terkeculai dengan saudara kita di Bumi Palestina. Negara Islam yang berkah bekas tapak singgah perjalanan isra nabi tak pernah habis akan hal-hal menarik untuk dibicarakan. Terutama tentang penjajahan yang masih berlangsung yang dilakukan oleh zionis israel. Sudah banyak sekali pemberitaan yang disertai narasi, foto, dan video yang menggambarkan tentang kondisi Palestina yang memperihatinkan. Kebiadaban israel begitu tak bisa diterima oleh akal sehat, serta Nurani terdalam. Meski Ramadhan, lancaran tembak dan dentuman bom tak dihentikan. Benar-benar di luar batas kemanusiaan. Untuk merasakan perasaan dan gelora sem...

Puasa: Hikmah Medikal

Oleh: Aqna Mumtaz Ilmi Ahbati   Sebelum membaca tulisan ini, lebih baik membaca 3 seri tulisan sebelumnya: spiritual, sosial, dan psikologis. Supaya sambung paham, terima kasih! Tiada kesia-siaan dalam kebaikan. Tidak mungkin Allah menciptakan dan memerintahkan sesuatu tanpa ada dasar tujuan dan hikmah di baliknya, agar dijadikan pelajaran. Apalagi untuk urusan ibadah, apalagi untuk urusan puasa. Sebagaimana sholat yang memiliki unsur kesehatan di setiap gerakannya, puasa pun seperti itu. Tapi, dikarenakan puasa adalah ibadah sirri atau tersembunyi, maka hikmah kesehatan atau medikal ini diperuntukkan bagi organ-organ yang sirri atau tersembunyi: organ-organ dalam. Di pembahasan terakhir dari buku Kearifan Syariat , membawa kita pada pembahasan hikmah medikal. 4. Hikmah Medikal   1.      Mengistirahatkan Organ Pencernaan Pada umumnya, seseorang memiliki kebiasaan makan tiga kali dalam sehari. Dengan kebiasaan ini, secara tidak sadar, dia t...