Puasa: Hikmah Medikal
Oleh: Aqna Mumtaz Ilmi Ahbati
Sebelum membaca
tulisan ini, lebih baik membaca 3 seri tulisan sebelumnya: spiritual, sosial,
dan psikologis. Supaya sambung paham, terima kasih!
Tiada
kesia-siaan dalam kebaikan. Tidak mungkin Allah menciptakan dan memerintahkan
sesuatu tanpa ada dasar tujuan dan hikmah di baliknya, agar dijadikan
pelajaran. Apalagi untuk urusan ibadah, apalagi untuk urusan puasa. Sebagaimana
sholat yang memiliki unsur kesehatan di setiap gerakannya, puasa pun seperti
itu. Tapi, dikarenakan puasa adalah ibadah sirri atau tersembunyi, maka
hikmah kesehatan atau medikal ini diperuntukkan bagi organ-organ yang sirri
atau tersembunyi: organ-organ dalam.
Di pembahasan
terakhir dari buku Kearifan Syariat, membawa kita pada pembahasan hikmah
medikal.
4. Hikmah
Medikal
1. Mengistirahatkan
Organ Pencernaan
Pada umumnya,
seseorang memiliki kebiasaan makan tiga kali dalam sehari. Dengan kebiasaan
ini, secara tidak sadar, dia telah memaksa organ pencernaannya untuk bekerja
terus menerus tanpa memberi kesempatan beristirahat. Setiap makanan yang masuk
akan ditampung dan dicerna selama kurang lebih empat jam di dalam lambung.
Selama itu pula, makanan dicerna dan dipersiapkan pada kondisi keasaman
tertentu dan mengamankannya dari infeksi-infeksi serta diteruskan sedikit demi
sedikit menuju usus halus sampai lambung dalam keadaan kosong. Di usus halus,
makanan disempurnakan pencernaannya selama kurang lebih empat jam. Jadi setelah
menikmati makanan, alat-alat pencernaan terus bekerja dan baru bisa
beristirahat setelah kurang lebih delapan jam.
Dengan
melaksanakan aktivitas makan pagi ada jam 07.00, organ pencernaan baru berhenti
bekerja delapan jam berikutnya, yakni pada pukul 15.00. Seandainya makan siang
dilakukan pukul 14.00, sistem pencernaan sudah disuruh lagi memproses makanan
yang baru masuk sampai pukul 22.00, padahal pekerjaan yang pertama belum
selesai. Belum selesai aktivitas kerja sistem pencernaan memproses makan siang,
dia akan dipaksa bekerja lagi jika makan malam dilakukan pukul 20.00, dan baru
berakhir pada jam 02.00 pagi. Kita bisa membayangkan betapa sistem pencernaan
bekerja keras sepanjang tahun, hampir tanpa istirahat. Dengan berpuasa selama
sebulan pada bulan Ramadhan, minimal ada enam jam waktu istirahat bagi organ
pencernaan dalam sehari.
Memang benar
kuantitas asupan makanan yang masuk selama berpuasa mengalami penurunan. Namun,
hal ini tidak berdampak menurunnya gizi yang diserap oleh tubuh. Justru
sebaliknya, gizi yang diserap oleh tubuh kualitasnya lebih baik disebabkan
organ pencernaan tidak dibebani dengan tugas yang berat sehingga memungkinkan
untuk memproses dan menyerap gizi dengan optimal.
2. Menghilangkan
Racun Dalam Tubuh
Makvadon, seorang ahli kesehatan Amerika, menulis bahwa setiap orang butuh
puasa meskipun ia tidak sakit karena racun-racun dalam makanan dan obat-obat
kimia yang berkumpul dalam badan akan menjadikan seseorang seperti orang sakit.
Semangatnya menurun dan tubuhnya terasa berat. Ketika berpuasa ia akan merasa
memiliki bobot tubuh yang ringan. Racun-racun (toxin) akan terurai
setelah terkumpul, lalu akan hilang dari tubuh. Akhirnya, tubuh menjadi bersih
dari racun-racun tersebut.
3. Meningkatkan
Kekebalan Tubuh
Menurut hasil penelitian di Osaka, Jepang tahun 1930, setelah memasuki hari
ke-7 berpuasa, jumlah sel darah putih dalam darah orang yang berpuasa
meningkat. Pada minggu pertama (hari ke-1 sampai hari ke-6) berpuasa, tidak
ditemukan pertumbuhan sel darah putih. Namun, pada hari ke-7 sampai hari ke-10,
penambahan jumlah sel darah putihnya pesat sekali. Penambahan jumlah sel darah putih ini secara otomatis
meningkatkan kekebalan tubuh. Sel-sel darah putih ini berfungsi melawan
peradangan yang ada dalam tubuh sehingga banyak penyakit radang yang bisa
disembuhkan dengan berpuasa. Misalnya, radang tenggorokan, radang hidung,
radang amandel, radang lambung, radang usus, dan radang persendian
4. Mencegah
Timbulnya Penyakit
Tanpa kita sadari, di dalam tubuh manusia ternyata terdapat parasit-parasit
yang menumpang hidup, termasuk menumpang makan dan minum. Dengan menghentikan
suplai makanan, kuman-kuman penyakit, bakteri-bakteri, dan sel kanker tidak
akan bisa bertahan hidup. Mereka akan keluar melalui cairan tubuh bersama
sel-sel yang mati dan toksin.
5. Sebagai Terapi
Penyembuhan Penyakit
Di klinik Pyrmont, Jerman, Dr. Otto Buchinger dan kawan-kawannya telah
menyembuhkan banyak pasien dengan terapi puasa. Setelah para pasien dirawat
secara medis selama sekitar 24 minggu dan berdisiplin puasa, ternyata mereka
lebih segar kembali baik secara fisik maupun secara mental. Mereka juga lebih
bergairah hidup. Menurut pengalaman terapi di klinik ini, berbagai penyakit,
seperti ginjal, kanker, hipertensi, depresi, diabetes, maag, dan insomnia,
dapat disembuhkan melalui puasa.
Demikian juga yang terjadi di Moskow Institute of Psychiatry. Menurut Dr.
Yuli Nekolar, setelah mengadakan riset dia menyatakan bahwa upaya penyembuhan
secara medis yang disertai dengan puasa hasilnya akan lebih baik dan lebih
cepat. Hal ini juga telah dibuktikan oleh para pasien yang menjalani terapi
puasa di klinik Health Spa di Amerika.
Puasa bisa bermanfaat untuk menurunkan kadar gula dalam darah hingga
mencapai kadar seimbang. Pada saat berpuasa kelenjar pankreas memiliki
kesempatan untuk istirahat. Metode pengobatan diabetes dengan sistem puasa
selama lebih dari 10 jam dan kurang dari 20 ja telah dipraktikkan di seluruh
dunia. Metode semacam ini telah mencapai hasil yang menakjubkan tanpa
menggunakan obat-obatan kimiawi satu pun.
6. Menahan Nafsu
Seks dan Memperbaiki Kualitas Sperma
Dalam sebuah hadis disebutkan,
قال عبد الله كنا مع النبي صلى الله عليه وسلم شبابا
لا نجد شيئا فقال لنا رسول الله صلى الله عليه وسلم يا معشر الشباب من استطاع
الباءة فليتزوج فإنه أغض للبصر وأحصن للفرج ومن لم يستطيع فعليه بالصوم فإنه له
وجاه.
“Abdullah berkata,
kami bersama Rasulullah adalah orang-orang muda yang tidak menemukan sesuatu
(untuk melampiaskan nafsu seksual). Kemudian, Rasulullah berkata, ‘Wahai para
pemuda, barangsiapa memiliki modal, maka hendaknya ia menikah karena hal itu
lebih bisa menahan pada pandangan dan lebih bisa menahan pada kemaluan. Dan
barangsiapa tidak mampu, maka hendaknya ia berpuasa karena puasa adalah
pengekang baginya.” (HR. Al-Bukhari No. 5.066).
Oleh Rasulullah Saw., puasa dijadikan sebagai
solusi alternatif bagi mereka yang hasrat libidonya meluap-luap, namun belum
siap untuk melangsungkan pernikahan. Solusi yang ditawarkan Rasulullah Saw.
lima belas abad silam ini, saat ini berhasil dibuktikan keakuratannya oleh para
ilmuwan.
Sebuah penelitian tentang pengaruh hormon seks bagi
laki-laki pernah dilakukan di sebuah rumah sakit di Amerika. Penelitian ini
dilakukan terhadap 6 orang yang berusia sekitar 26 dan 45 tahun melalui tiga
tahap selama delapan belas hari. Tahap pertama, mereka makan seperti biasa
selama tiga hari. Tahap kedua, dengan berpuasa sepuluh hari, tidak makan dan
minum siang malam, kecuali air putih yang boleh dikonsumsi siang dan malam.
Tahap ketiga, mereka diberi makan lagi seperti sedia kala selama lima hari.
Hasil tes darah yang dilakukan menunjukkan bahwa
hormon seks laki-laki (testosteron) mengalami penurunan dengan frekuensi sangat
tinggi ketika menjalani puasa selama sepuluh hari. Penurunan hormon terus
berlangsung sampai tiga hari setelah diberi asupan makanan ketika menjalani
tahap ketiga. Pada hari keempat terjadi peningkatan kualitas hormon testosteron
dibandingkan sewaktu sebelum puasa. Jadi puasa di samping mampu menurunkan
hormon seks juga meningkatkan kualitas hormon tersebut.
7.
Mencerdaskan Otak
Kitab Ta’limul
Muta’alim karya az Zarnuji merupakan salah satu kitab klasik yang hingga
saat ini dijadikan sasaran kritik oleh kalangan akademis. Kritik mereka banyak
dikaitkan dengan isi kitab itu yang dianggap tidak relevan dengan perkembangan
zaman karena banyak terdapat doktrin-doktrin yang tidak logis dan bertentangan
dengan ilmu kesehatan.
Kalangan pesantren
yang masih menjadikan kitab ini sebagai salah satu materi wajib dalam kurikulum
madrasahnya tidak pernah sungguh-sungguh menanggapi kritik yang dilontarkan.
Mungkin, karena kalangan pesantren memiliki keyakinan tidak semua hal harus
dirasionalkan. Ada wilayah-wilayah tertentu yang akal kita tidak sanggup
menalarnya. Atau juga bisa disebabkan, apa yang dituntut oleh kalangan akademis
adalah pembuktian secara logis melalui riset ilmiah. Sesuatu yang kaum santri
tidak memiliki spesialisasi di bidang ini. Fakta bahwa kiat-kiat belajar dalam
kitab Ta’limul Muta’alim telah terbukti sukses menjadi pedoman utama
para ulama selama menjalani proses belajarnya sehingga mengantarkan mereka
menjadi ulama besar, mungkin satu-satunya argumen yang bisa disampaikan
kalangan pesantren.
Belajar yang paling
efektif adalah pada saat perut lapar. Inilah salah satu kiat sukses belajar
dalam kitab Ta’limul Muta’alim yang memantik kontroversi. Banyak orang
beranggapan ini adalah teori yang sangat tidak logis. Bagaimana mungkin bisa
meraih hasil maksimal dalam belajar ketika kondisi tubuh lemah dan tidak
bergairah disebabkan lapar. Namun, ternyata ilmu kedokteran mampu menjawab
keraguan ini dan membenarkan teori dalam kitab Ta’limul Muta’alim.
Pada saat perut kenyang,
banyak darah yang tersalur untuk melakukan proses pencernaan. Sewaktu seseorang
berpuasa dan perut kosong, maka volume darah di bagian pencernaan dapat
dikurangi dan dipakai untuk keperluan lain terutama untuk melayani otak. Dalam
sebuah pepatah Arab dikatakan,
البطنة تذهب بالفطنة
“Kekenyangan menghilangkan
kecerdasan.”
لا تدخل الحكمة جوفا ملئ طعاما
“Hikmah tidak akan
memasuki perut yang penuh dengan makanan.”
كثيرة شحم بطونهم قليلة فقه قلوبهم
“Yang banyak lemak perutnya,
sedikit kecerdasan hatinya.”
Pepatah-pepatah yang
penulis sebutkan di atas mengingatkan kita, bahwa kecerdasan bertentangan
dengan kekenyangan.
Asy-Syafi’i, seorang
yang terkenal akan kecerdasannya, berkata, “Aku belum pernah kenyang
semenjak umur enam belas tahun, kecuali satu kali kenyang yang aku muntahkan.”
Dalam kesempatan lain
Asy-Syafi’i mengatakan: “Aku tidak pernah melihat orang gemuk lagi cerdas,
kecuali Muhammad bin Hasan (seorang ulama kenamaan dan murid utama Imam Abu
Hanifah).
8.
Meningkatkan Daya
Serap Makanan
Berdasarkan ilmu gizi, pada umumnya, manusia hanya
dapat menyerap gizi sebanyak 35% dari gizi makanan yang dikonsumsi. Dengan
berpuasa, penyerapan gizi dapat meningkat hingga 85%. Hal ini bisa dijelaskan
sebagai berikut.
Sebelum diserap, makanan harus mengalami proses
perubahan dari padat menjadi komponen-komponen yang halus. Perubahan-perubahan
tersebut terjadi di dalam alat-alat pencernaan. Pada waktu berpuasa, alat
pencernaan beristirahat selama kurang lebih enam jam. Dengan beristirahat,
alat-alat pencernaan menjadi lebih giat dalam mereduksi dan menyerap makanan
yang dikonsumsi. Logikanya, bila efisiensi pencernaan bertambah, daya serap
tubuh terhadap gizi akan menguat.
9.
Menguatkan Jantung
Manfaat puasa bagi kesehatan jantung dapat
diringkas ke dalam dua poin. Pertama, puasa meringankan kerja jantung. Dan
kedua, puasa membersihkan darah. Keduanya membuat jantung dengan mudah
mendapakan pasokan darah bersih. Ketika yang masuk ke dalam jantung hanya
darah-darah yang bersih, maka kerja jantung pada hari-hari biasa setelah
Ramadhan akan menjadi lancar.
Setiap menit jantung berdenyut sebanyak 80 kali.
Ini sama dengan 115.200 (seratus lima belas ribu dua ratus) kali dalam 24 jam.
Di hari pertama puasa, detak jantung berkurang hingga di bawah 60 kali per
menit. Denyut jantung kembali meningkat hingga mencapai 60 kali per menit di
sela-sela hari puasa. Maka, dalam sehari ketika puasa denyut jantung mengalami
penurunan kesempatan jantung untuk istirahat, yakni dengan mengurangi
pekerjaannya hingga tinggal seperempatnya saja.
Dengan diberi kesempatan untuk meringankan kerjanya
selama puasa, jantung dapat bekerja secara maksimal dengan denyut yang lebih
kuat di hari-hari biasa. Selain memberi kesempatan istirahat kepada jantung,
puasa juga memberikan hari libur kepada lambung.
Dengan begitu, jika puasa tidak menjadikan kita sehat dan malah sakit,
berarti ada yang salah dengan diri dan puasa kita!
Semoga
bermanfaat.
Wallahu a’lam.
Komentar
Posting Komentar