Puasa adalah Milikku dan Aku Akan Membalasnya
Oleh: Aqna Mumtaz Ilmi Ahbati
Puasa adalah ibadah yang penting. Selain termasuk salah satu dari rukun islam, puasa banyak manfaat dari kaca mata kesehatan dan jiwa karena berkat menahan lapar dahaga itu. Tak hanya itu, pentingnya, puasa langsung menghadap Allah. Maksudnya, jika syahadat, masih bisa orang tau dengan mendengarnya. Sholat, masih bisa orang tau dengan melihat gerakannya. Zakat, masih bisa orang tau karena menerima hasil zakatnya. Haji, masih bisa orang tau karena menyaksikan keberangkatannya. Lalu, puasa? Lesunya wajah atau tidak, itu tak terlalu penting. Niat dan semua kesungguhan tergantungkan kepada Allah Swt.
Oleh karena itu, kita sering mendengar akan dalil,
الصوم لي وأنا أجزى به
“Puasa adalah milikku dan aku akan
membalasnya.”
Dalam kitab Durrotun Nashihin yang menukil dari kitab Miftahu
As-Sholat, Syekh Utsman bih Hasan bin Ahmad Asy-Syakir Al-Khaubawi
menjelaskan akan penafsiran dalil tersebut,
روي عن رسول الله صلى الله عليه وسلم حاكيا عن ربه تعالى: وكل حسنة يعملها
ابن ادم يضاعف له اجرها من عشرة الى سبعمائة ضعف الاالصوم فاءنه لي وانا اجزى به
Diriwayatkan dari Rasulullah Saw menyampaikan firman Tuhannya Yang
Mahatinggi: “Tiap-tiap kebaikan yang dikerjakan oleh anak Adam pahalanya
dilipat gandakan dari sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat, kecuali puasa.
Karena sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Akulah yang akan memberi ganjaran
atasnya”.
اختلف العلماء في قوله تعالى الصوم لي وانا اجزى به مع ان الاءعمال كلهاله
وهو الذي يجزى بها-على اقوال: احدها ان الصوم لايقع فيه الرياء كما يقع في غيره
لاءن الرياء يقع لاءبن ادم وانما الصوم شيء في القلب وذلك ان الاءعمال لاتكون
الابالحركات الا الصوم فاءنما هو بالنية التي تخفى عن الناس
Para ulama berselisih pendapat mengenai firman Allah Taala: “Puasa itu untuk-Ku
dan Aku memberi ganjaran atasnya”. Padahal semua amal itu adalah untuk-Nya juga
dan Dialah yang memberi pahalanya.
Pertama, bahwa dalam puasa tidak terjadi riya, seperti halnya yang
terjadi pada selain puasa. Karena riya (sifat ingin dipuji) itu suka terjadi
pada diri manusia, sedang puasa itu tidak lain adalah suatu yang ada di dalam
hati. Yakni, bahwasanya semua amal itu biasanya berupa gerakan-gerakan lahiriah
yang bisa dilihat, selain puasa. Adapun puasa adalah hanya dengan niat yang
tidak diketahui oleh orang lain.
وثانيها ان المراء بقوله انا اجزي به انفرد وبعلم مقدارثوابه وتضعيف اجره:
واما غيره من العبادات فقد يطلع عليها بعض الناس
Kedua, bahwa maksud dari firman Allah, “dan Aku memberi ganjarannya”,
ialah bahwa hanya Dia sendirilah yang mengetahui kadar pahala puasa itu dan
penggandaan ganjarannya. Adapun ibadah-ibadah yang lain, terkadang dapat
diketahui oleh sebagian orang.
وثالثها معنى قوله الصو لي وانا اجزى به اي
انه اجب العبادة اليه
Ketiga, makna dari firman Allah, “Puasa itu untuk-Ku dan Aku memberi
ganjaran atasnya”, adalah bahwa, puasa itu merupakan ibadah yang paling disukai
oleh-Nya.
ورابعها الاءضافة اليه وهي اضافة تثريف وتضعيف كما يقال بيت الله
Keempat, penyandaran puasa kepada diri-Nya (puasa itu untuk-Ku) adalah
penyandaran yang berarti pemuliaan dan penggandaan, seperti kalimat Baitullah
(Rumah Allah).
وخمسها ان الاستغناء عن الطعام وغيره من الثهادات من صفات الرب فلما تقرب
الصائم الى الله بما يوافق صفاته اضافة اليه
Kelima, bahwa sikap tidak memerlukan makanan dan keinginan-keinginan lainnya
adalah termasuk sifat-sifat Tuhan. Dan karena orang yang puasa itu mendekatkan
diri kepada Allah dengan suatu sikap yang sesuai dengan sifat-sifat-Nya, maka
disandarkanlah ia kepada-Nya.
وسادسها ان المعنى كذلك لكن بالنسبة الى اللائة لاءن ذلك صفاتهم
Keenam, bahwa artinya memang seperti itu, tetapi dalam kaitannya dengan
malaikat. Karena, itu semua adalah sifat-sifat mereka.
وسابعها ان ظيع العبادات يوافي منها مظالم العباد الاالصيام
Ketujuh, bahwa semua ibadat bisa dikurangi pahalanya guna menebus perbuatan-perbuatan
aniaya terhadap sesama manusia, kecuali pahala puasa.
وتفق العلماء على ان المراد بالصوم في قوله الصو لي وانا اجزى به صيام من سلم صيامه من المعاصي قولا
وفعلا
Namun demikian, semua ulama sepakat bahwa, yang dimaksud dengan “puasa”
di dalam firman Allah, “Puasa itu untuk-Ku dan Aku memberi ganjaran atasnya”,
adalah puasa orang yang puasanya itu bersih dari maksiat, baik berupa perkataan
maupun perbuatan.
Wallahu A’lam.
Komentar
Posting Komentar