Benarkah Kamu Merindukan Ramadhan?

Oleh: Muslikhatul Nur Rosyidah


Terkadang ada hal yang tidak bisa kita paksakan untuk dilakukan, tapi banyak juga orang yang memaksakan demi melakukan kebaikan. Pencitraan, contohnya. Ingin dilihat dan dipandang baik oleh publik, hingga dia sendiri lupa menyadari bahwa itu tidak sesuai dengan fakta keadaannya. Sampai akhirnya...

Ooh, Ramadahan!

Hadirmu selalu kurindukan

Selalu kunantikan

Kau membuatku tenang

Selamat datang, Ramadhan! Selamat datang bulan yang dirindukan!”

Dan bla.. bla.. lainnya. Apa benar kamu merindukan ramadhan?

Sering terjadi, perlunya kita berkaca pada hari-hari yang kita habiskan di bulan Ramadhan. Dalam hal puasa saja, yang sudah jelas-jelas wajibnya dan nggak full 24 jam, masih sempatnya kita mengeluh. “Nggak kuatlah!”, “Lemaslah!”, “Hauslah!” Haha, puasa kok lebih sering ngelihat jam dari pada Al-Qur’annya!

Nggak mengecualikan juga, dengan menjadikan waktu berbuka sebagai ladang dendam untuk lapar dahaga seharian: semua dikunyah, semua ditenggak. Apalagi, untuk orang yang beralasan bahwa tidur itu ibadah, membuatnya harus tidur seharian, sedari sahur sampai berbuka. Atau mungkin juga, pada saat sholat tarawih yang masih sempat-sempatnya ngebatin, “Kapan selesainya, sih?”, “Bacaannya kenapa panjang banget!”, “Besok-besok sholat di masjid lainlah, cari tarawih kilat!” Haha, tarawih kok lebih sering hitung rokaat dari pada dzikirnya!

Ada sebuah kata-kata bijak:

كم من صائم مفطر صائم

Barang siapa yang berpuasa, namun hakikatnya mereka tidak berpuasa. Banyak orang yang tidak berpuasa namun hakikatnya mereka berpuasa.

Haha, suka random moodnya, wajarlah namanya juga manusia. Sebenarnya sesuatu yang diwajibkan adalah sesuatu yang manusia tidak suka mengerjakannya, kalau manusia suka melakukannya untuk apa diwajibkan.

يا ايها الذين امنوا كتب عليكم الصيام كما كتب على الذين من قبلكم لعلكم تتقون

“Wahai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan kepada kalian semua berpuasa, sebagaimana juga telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum kalian, supaya kalian bertaqwa”(Q.S.Al-Baqarah:183)

Tujuan kita diciptakan adalah bertaqwa, beribadah kepada Allah. Artinya, kita diciptakan ini agar kita bahagia. Karena ibadah itu pengantar kebahagiaan. Kita itu tercipta untuk senang saking sayangnya Allah kepada kita. Tapi kitanya yang sering salah mengartikan kebahagiaan yang sebenarnya.

Astaghfirullah! Jadi ingat dosa...

Iman kita yang begini-begini saja betapa reotnya untuk disunggi kehadirat-Nya.

Takwa kita yang begini-begini saja betapa ringkihnya untuk dibanggakan dihadapan-Nya

Akhlak kita yang begini-begini saja betapa rapuhnya dimamah hawa nafsu yang tiada letih menerjang hingga tiada patuh sama sekali untuk dirayakan.

Ketahuilah! Bulan Ramadhan adalah bulan yang istimewa dan paling mulia, dibandingkan bulan lainnya. Ramadhan bulan penuh rahmah, berkah dan ampunan. Pada bulan ini Al-Qur’an diturunkan, pahala ibadah dilipat gandakan, lailatul Qodar diturunkan yaitu malam yang nilai pahala ibadah pada saat itu lebih baik dari seribu bulan. Begitu besarnya keutamaan Ramadhan hingga Rasulullah bersabda:

لويعلم العباد ما فى رمضان لتمنت امتي ان يكون رمضان السنة كلها

“Andaikan hamba-hamba Allah tahu keutamaan yang ada dalam bulan Ramadhan, niscaya umatku menginginkan sepanjang tahun itu menjadi Ramadhan saja”. (HR.Tabrani, Ibnu Huzaimah dan Ibnu Abiddun-ya).

من صام رمضان ايمان واحتسابا غفرله ما تقدم من ذنبه

“Barang siapa berpuasa di bulan Ramadhan dilandasi iman dan ikhlas, maka dosa-dosanya terdahulu akan diampuni oleh Allah. (HR.Bukhari dan Muslim).

Nah, sangat masyaallah bukan? Tidak ada ruginya sama sekali melakukan kebaikan di bulan yang suci ini. Bahkan di bulan Ramadhan, Allah sangat mencintai orang-orang yang pernah berbuat maksiat lantas bertobat.

Selamat datang bulan yang mulia di setiap siang dan malamnya.

Di mana nafas dan tidur kita pun mendapat pahala.

Dosa pun diampuni, do’a pun diterima.

Marhaban ya Ramadhan!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puasa adalah Milikku dan Aku Akan Membalasnya

Enaknya Jadi Umat Muhammad Di Bulan Ramadhan!