Postingan

- x - = Lucu

Dalam materi matematika dasar, pasti kita pernah mengetahui perihal rumus: + x + = + + x - = - - x + = - - x - = + Walau nyatanya, matematika adalah ilmu pasti: hadirnya pemahaman itu nggak pasti! Hingga kita butuh pendekatan untuk bisa menerka maksud dari materi yang sedang dibahas. Contohnya, seperti rumus tadi. Sesederhana, pada cuplikan rumus yang mengatakan - x - = + itu sedikit membingungkan. “Bagaimana bisa, suatu variabel minus yang sama, sama-sama minusnya, kok dapat menghasilkan plus?” Pikir saya kala itu. Hingga, suatu kejadian, mampu memberi pencerahan yang lain. “Aduh, gimana ya, kitabku maknanya banyak bolong-bolong!” Ucap fulan yang mengeluhkan makna kitabnya yang compang-camping, rumpang, bahkan ada ‘petir’-nya. “Kamu mah masih mending, Lan. Kitabku malah hilang!” *Keluh kesah + “Kamu mah masih mending” = Penuh keprihatinan: menjadi-jadi! Haha. Nyatanya 2 energi negatif, bisa menghasilkan 1 energi positif yang besar. Nyatanya, keluh kesah merek...

Kenapa Harus Kuli(ah)?

“Kenapa harus kuliah?” Entah kenapa pertanyaan itu masih saja laku diperjualbelikan, untuk diberikan dan dikonsumsi akal sehat. Semua sepakat, meski terdengar paradoks, bahwa kuliah adalah bentuk usaha mencari ilmu dalam skala universal yang spasial. Untuk urusan dapat pengalaman, relasi, hingga jodoh, itu hanya bonus. Esensi, orientasi, dan substansi dari kuliah, ya demi pengetahuan: nggak perlu dalil soal itu. Gelar juga merupakan keniscayaan. Pengetahuan pun kini dituntut validasi dan verifikasi untuk dunia kerja yang nyaman dan menjamin: bangku perkuliahan menjawab itu. “Nyatanya, orang kuliah belum tentu berilmu. Dan untuk bisa kerja, nggak harus kuliah!” Celotehnya, bersungut menyulut, lagi. Sebelumya maaf, Paduka, mungkin bukan ’belum tentu berilmu’. Karena setiap orang yang hidup di lingkungan akademis, pasti berilmu. Hanya saja, dalam tarafnya masing-masing. Lalu untuk ’bisa kerja nggak harus kuliah’, itu benar. Gua setuju. Pekerjaan bukan hanya untuk mereka yang sarjana. Kuli...

Mengenal Membaca dan Menulis Di Hari Literasi Internasional

Dalam KBBI, literasi memiliki arti kemampuan menulis dan membaca. Setiap hal yang bersangkut paut dengan kemampuan menulis dan membaca, berarti berkaitan dengan lingkup koridor cakupan literasi. Menulis dan membaca, itu kata kuncinya! Di Hari Literasi Internasional ini, di suatu momen istimewa dan bahagia ini, saya mencoba merasa istimewa dalam pengungkapkan rasa bahagia pada esai compang-camping ini: tentu, penuh harapan. Dalam sebuah buku karangan Prof. Dr. AG. K.H. Al-Habib Muhammad Quraish Shihab, Lc., M.A., Dia Di Mana-Mana , dijelaskan mengenai sejarah awal mula adanya tulisan: “Sejarah kemanusiaan dapat dibagi dalam dua periode. Periode pertama, adalah era sebelum ditemukannya tulisan, dan era kedua setelah tulisan dikenal oleh umat manusia. Sementara pakar berkata bahwa tulisan dikenal pertama kali di Mesir sekitar 5000 tahun yang lalu, yakni tulisan heroglifia yang berhasil diungkap rahasianya oleh Peneliti dan Orientalis Perancis, Champollion (1790-1832 M). Ada juga y...

Misteri 3 PR

Suatu hari, seorang anak perempuan mengerjakan PR dari guru, dari kelas, dari sekolah, dari kurikulum yang baru saja ditetapkan: “Adab dan Peradaban”. Di sana ada 3 PR. PR pertama, pelajaran Antropologi yang terhitung luas akan sosial, budaya, politik; yang kesemuanya dibalut sejarah. Perihal sistem sosial misoginis jahiliyah, anak perempuan adalah aib yang semerta-merta bisa saja menempelkan tai di wajah keluarga. Maka pencekokan mati untuk hidupnya anak perempuan adalah cara pembersihan tai yang paling ampuh, cepat; Juga budaya yang menjunjung self-improvement atau malah perternakan, bahwa perempuan harus dipingit adat bagai burung dalam kurung, hingga datangnya pembeli yang berani membayar untuk sebuah pernikahan yang bukan, belum berarti bebas atas kurung entah murung; Hingga, politik, terkesan begitu keji untuk tujuan terpuji. Kata Jugun Ianfu itu disiram basah mani, keringat, air mata, darah, dan percik kencing penjajah yang tak peduli itu kemanusiaan atau hanya sebatas...

Sebuah Catatan: Bagaimana Kaum Perempuan Meraba Kemerdekaan?

Tulisan serius ini dibuka dengan konsep Determinisme History dalam ilmu Sosiologi yang mengatakan, bahwa kehidupan dibagi ke dalam 4 periode: 1.      Zaman alami. 2.      Zaman dominasi lelaki. 3.      Zaman protes kaum perempuan. 4.      Zaman persamaan hak antara lelaki dan perempuan. Tentu fokus kita dewasa ini, adalah terkait paham kesetaraan gender. Dengan itu, lalu, benarkah keyakinan itu telah berlaku? Atau mungkin kembali mati? Untuk mendapatkan jawabannya, mari kita menilik sejarah, sebentar dan sedikit saja. Mengutip buku Monolog Cinta , dikatakan: ”Bangsa Yunani kuno menganggap wanita sebagai harta benda kekayaan yang tak berharga. Sehingga diperjualbelikan secara terbuka di pasar-pasar sebagai budak dan dihinakan tanpa memiliki hak waris. Di Romawi kuno akad pernikahan sama dengan akad pertuanan, artinya secara formal suami membeli istri. Di Arab Pra-Islam, kaum wanita sangat ter...

Kita Bisa Lebaran Setiap Hari

Oleh: Aqna Mumtaz Ilmi Ahbati Lebaran adalah momen yang ditunggu-tunggu oleh umat muslim. Selain karena limpahan ganjaran di bulan Ramadhan, menandakan berhasilnya kita melawan hawa nafsu lapar dahaga dan hal-hal ketaatan selama sebulan penuh. Idhul fitri. Kembali fitrah, suci. Selain itu lebaran juga penuh suka, tak ayal lebaran dijadikan hari raya umat islam yang selalu dinanti-nanti. Tapi, ternyata kita bisa lebaran setiap hari. Tidak perlu menunggu Ramadhan dengan segala hal a ng rintang. Sekali lagi, kita bisa lebaran setiap hari. Lebaran selain identik dengan kegembiraan, juga tentang silahturahmi, maaf-maafan, berbagi makanan, dan lainnya. Inilah hal inti dari makna lebaran dengan segala kebahagiaan. Pertama, silahturahmi. Pertemuan antar keluarga, kerabat, tetangga, hingga handai taulan dan teman menjadi suatu yang dinanti ketika lebaran. Hidup dengan segala kesibukannnya masing-masing membuat menjadi momen yang tepat dalam pertemuan yang cepat. Tapi, untuk bersilahturahm...

Idul Fitri: Hari Raya, (Bukan) Hari Riya

Bagi sebagian orang, Idul Fitri adalah momen yang ditunggu-tunggu. Momen yang digunakan semaksimal mungkin untuk bertemu dan rindu-rindu. Suami pada istri, anak pada orang tua, saudara pada keluarga, teman pada sebaya, dan kekasih pada kekasih. Luang untuk mereka yang tersayang. Karena memang, Idul Fitri selalu dijadikan hari libur bersama. Setiap orang punya libur yang sama, meski dengan bahagia yang berbeda. Itu mengapa, dalam menyambut Idul Fitri, orang-orang memiliki cara bahagianya masing-masing: ada yang memilih mudik ke kampung halaman dan ada yang tidak mudik ke kampung halaman, entah mereka yang memang tidak punya kampung atau mungkin karena mereka yang belum ada kesempatan untuk pulang. Dengan begitu, bukan tentang bahagia mana yang kita ingin, tapi bahagia mana yang kita butuh: maka ciptalah bahagia itu! Idul Fitri adalah puncak harapan. Setelah berpanjang usaha dan mendalam do’a selama Ramadhan, sudah seharusnya Idul Fitri adalah Rahmat yang paripurna. Begitu didamba, hingg...