Rajut Temu
Oleh: Aqna Mumtaz Ilmi Ahbati
Menitik, di ujung detik.
Masih dalam belalak mencari udara
menuju kesadaran utuh.
Sungguh, ini yang kita butuh: tiba.
Ia melambai,
tak lama memeluk.
Ramadhan, tamu agung itu terkasih, menjadikannya kekasih.
Tak ubahnya
semilir di kelopak putik, rintik di tandus kerontang, atau kabar di hilang dan
temu.
Kuperkenalkan diri, di lembar gelar
kertas kuning, di antara huruf tak berharokat, seberis kata santri dan perjuangan.
Menerka gelap, menuju lelap: kan kuhidupi
malam-malammu dengan rukuk sujud penyembahan.
Menapak terang, menghancur karang: kan kurajut
siang-siangmu dengan baca tulis keilmuan.
Tanpa dipinta, merekah senyum, ganjaran
dan ampunan kau beri tanpa perhitungan.
Lailatu Qadr, malam yang lebih baik dari seribu bulan,
adalah cita-cita yang berkepanjangan, lagi dalam.
Mana kau yang
disebut bulan lapar? Kenyangnya aku akan segala kebaikan dan balasan.
Namun sayang, benar,
sungguh, tak ada yang abadi dalam ruang dan waktu.
Kita hanya berusaha meracik dan mencampur harapan agar
menadapat kesempatan, kembali dan lagi-lagi: berjumpa dengan bulan suci
Ramadhan.
اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ
فَاعْفُ عَنِّي
Komentar
Posting Komentar