Partai
Oleh: Aqna Mumtaz Ilmi Ahbati
Semua setuju, ilmu adalah kunci bahagia dunia akhirat. Nggak perlu dalil-dalil.
Dengan putaran waktu yang membawa pada zaman yang menuntut perfeksionis,
juga tentang kuantitas dan kualitas. Gua rasa santri adalah figure yang absolut
akan intelektual dan intergral yang intact. Bukan tentang kaum proletary,
marhaenisme, murba, inferior, atau Burundi sekalipun. Haha, We are The Gate
of Knowledge!
Santri, dengan sisi formal dan agamanya, nggak ayal untuk semat cerdas
intelektual dan kokoh spiritual. Nggak harus melulu membahas tentang sisi keagamaan dan
indah susasana di kota santri, sekali-kali kita bahas sisi formal, sisi dunia
intelektualnya; Kampus.
Santri, para mahasiswa-mahasiswi itu, tentu baik dan boleh-boleh saja
untuk fanatik terhadap ilmu. Fanatik kan juga merupakan bentuk ghirah dan
totalitas kita dalam belajar. Tapi, yang nggak baiknya itu jika sudah harus
merendahkan orang lain. Bagaimana bisa?
“Apa hebatnya PGMI?”
“PGMI bisa, apa?”
“Dari pada PGMI, mendingan jadi ternak lele aja, lebih menguntungkan!”
“Anak-Anak mari kita belajar berhitung…”
Dan cocot-cocot lainya tentang pencemaran profesi tanpa schifting
sekalipun. Gua tau, menurut kitab ta’lim, ini termasuk jaddal atau
diskusi usil ucap Dosen Studi Indonesia itu. Aslinya juga nggak ada gunanya
buat dibahas. Ya, tapi gimana lagi? Kuping gua dua, hati satu, sedangkan mulut mereka
keroyokkan. Mau nggak mau harus angkat bicara tanda berpendirian. Lagian juga
gua cuma ngomong di sini. Sebisa mungkin mengolah kata tanpa melibatkan amarah.
Semoga.
Hanya karena hal-hal eksoteris dan anak-anak kecil yang dipandang
menggelikan untuk suatu tuju pekerjaan, mereka malah membanggakan diri mereka
sendiri dan merendahkan lainnya. Seolah nggak ada yang paling mantap dan
berintegritas selain ia dan matkul prodi-prodinya yang makalah aja masih copas,
presentasinya baca, absennya nitip. Mahasiswa-mahasiswa beban. Kebayang sih
kalau jadi kosmanya!
Okelah, AS anak hukum keren, bisa kerja di pengadilan jadi hakim. PAI
anak pendidikan keren, bisa kerja di sekolah mana saja, jadi guru. PS anak
perbankan keren, bisa kerja di pemerintahan jadi akuntan. KPI anak komunikasi
keren, bisa kerja di institusi jadi kreator media. IAT anak tafsir keren, bisa
kerja di Kemenag jadi Mufasir. PI anak psikolog keren, bisa kerja di perusahaan
jadi konsultan. Atau apalah.
Tapi, maksud gua kenapa harus ada pengdikotomian dalam ilmu? Apa yang
bisa menjamin sukses? Sukses ditentukan prodi kuliahnya? Jack Ma pernah 4 kali
gagal masuk perguruan tinggi, Einstein pernah nggak naik kelas waktu smp, dan
Steve Jobs pun nggak lulus kuliah! Semua tergantung usaha. Al ajru biqodri
taab. Hasil gimana usaha. Jatuhnya, lucu aja dengar calon sarjana karbitan ini
saat merumuskan teori sukses!
Tentu setiap hal punya sisi baik dan sisi buruk. Bisa-bisa aja untuk
menuntut akal mencari sisi buruk dari prodi-prodi yang mengaku wow itu. Nggak
menutup kemungkinan anak AS yang mentok-mentok membatu di KUA jadi penghulu
yang kerjaannya ngawinin orang atau ngarep orang cerai biar kerja, biar punya
penghasilan. PAI yang merasa tenang masa depan dengan slot mudin yang
disisakan. PS yang mentok-montok jadi bendahara desa. KPI yang sah-sah saja
jadi penyiar radio yang udah nggak ada pendengarnya lagi. Bisa juga IAT Sang Mufasir yang sangat
sulit tercapai itu dan bisa jatuh menjadi imam tahlil atau imam mushola. Atau
PI yang tentu lebih jijik mengurus orang gila di RSJ dari pada mendidik murid
MI.
Emang apa sisi buruknya PGMI? Emang lu tau sisi baiknya? Malah asal lu
tau, menurut gua kuncinya itu di PGMI! Benar ucap Syekh Musthofa Al-Gholayini
dalam bab al haditsul awal di kitab Idhotun Nasyi’in-nya, bahwa segala
akhir itu ditentukan di awal. Dan pendidikan adalah sektor paling penting untuk
raih sektor-sektor lainnya. Bedakan antara mengajar dan mendidik! Masa harus
gua jelasin? Katanya udah mahasiswa? Mana hasilnya 13 tahun belajar kalau
mengajar dan mendidik aja nggak tau?
Untuk menentukan seorang peserta didik di tingkat selanjutnya, hingga
kerja, dan melanjut hidup, tentu semua dimulai dari sekolah dasar. Karena seseorang
sudah bisa dinamakan sekolah ketika ia sudah masuk SD atau MI. Bukannya TK adalah taman kanak-kanak? Antara belajar
dan mainnya lebih banyak didominasi mainnya?
Itulah mulianya guru sekolah tingkat dasar. Bagaimana harus mengajar
pengetahuan dan tetap menanamkan moral.
Bagaimana seorang guru tingkat sekolah dasar dalam berinteraksi penyampaian
pembelajaran harus begitu hati-hati, agar timbul kesan senang dan tenang di
pertemuan pertama anak pada ilmu. Karena tingkat sekolah dasar itu masa sekolah
yang paling lama. Baik tidaknya, berhasil tidaknya seorang guru dalam mendidik
akan menentukan karakter dan stigma peserta didik selanjutnya.
Selain seorang guru tingkat sekolah dasar yang harus mempelajari semua
mata kuliah untuk bekal guru kelas yang tentunya nggak bisa dibandingkan dengan
mereka yang hanya mengenyam mata kuliah kejurusan, PGMI juga belajar
Behavioristik, Kognitif, Konstuktivisme, & Humanistik pada matkul
psikologi. Juga belajar teori Plato, Aristoteles, Johan Amos, Anaximander pada
matkul filsafat. Begitu juga tentang materi membaca kritis, berbicara praktis
dalam studi Indonesia, dan studi arab, studi inggris, fiqih, studi qur’an,
studi hadits, administrasi dan supervisi pendidikan, dan banyak lagi. Bukankah kesemuanya memiliki
esensi korelasi dengan mencakup semua prodi?
Taulah jadi males gua banyak-banyak omong buat hal kesia-siaan.
Tapi sebelumnya, gua jadi curiga, bukan mau suudzon tentang jenis
manusia cetakan tingkat sekolah dasar yang gagal, kebayang dan jelas sih orang-orang
kayak mereka waktu pakai seragam putih merah ingusan susah disuruh masuk kelas
dan malah betah di tukang cireng, samping tukang mainan!
Komentar
Posting Komentar