Puasa: Hikmah Sosial
Oleh: Aqna Mumtaz Ilmi Ahbati
Sebelum membaca
tulisan ini, lebih baik membaca seri tulisan sebelumnya: spiritual. Supaya
sambung paham, terima kasih!
Dalam
konsepnya, puasa tentu sangat berdampak pada hikmah sosial. Kita hidup di
sosial dan sebagai makhluk sosial. Selain puasa karena merupakan bentuk
menjalankan perintah syari’at, sejatinya, puasa juga bertujuan untuk merasakan
apa yang dirasakan oleh saudara kita yang di bawah taraf kecukupan. Aspek
kemanusiaan begitu dijunjung. Dengan itu tentu akan timbul kepekaan dan
kepedualian akan sesama.
Maka selaras
akan hadits Nabi Saw:
اَلْمُـسْــلِمُ أَخُو اْلمُسْلِمَ لَا یَظْـلِمُ وَلَایُظْلَمُ ـ منفق علیھا
"Orang
Muslim sesama muslim adalah saudara tidak boleh saling menzalimi dan
dizalimi."
Semenjak
berpuasa, karena puasa, kita ditempa batin dan materi nilai-nilai kemanusiaan.
Maka, output atau konsekuensi dari berpuasa itu sendiri akan membuahkan
nilai-nilai kebaikan bagi sesama. Berpuasa sangat berhikmah untuk sosial.
Sebagaimana
yang tertera di buku Kearifan Sosial, mengenai pembahasan selanjutnya,
hikmah sosial.
2. Hikmah
Sosial
Dengan
merasakan betapa menderitanya menahan lapar dan dahaga selama berpuasa, akan
menumbuhkan rasa kasih sayang, solidaritas, dan kepedulian sosial terhadap
nasib mereka yang hidup di bawah garis kemiskinan. Kelaparan dan kehausan hanya
dirasakan selama satu bulan, padahal orang-orang yang hidup serba kekurangan
merasakannya sepanjang tahun. Perasaan ini akan mendorong seseorang untuk
bersedekah dan menghilangkan sikap individualisnya sehingga tercipta hubungan
harmonis antara orang kaya dan miskin. Dengan berpuasa, kepedulian akan nasib
orang-orang miskin ini tidak sekedar aksi kampanye atau slogan saja, namun
diwujudkan dengan merasakan langsung penderitaan yang mereka alami sehari-hari.
Yusuf a.s.
ditanya, “Mengapa engkau rela merasakan lapar, padahal engkau telah memiliki
kekayaan dunia?”
Beliau
menjawab, “Aku takut bila aku kenyang, maka aku akan lupa kepada orang yang
lapar.”
Nabi Muhammad
Saw. bersabda,
ليس المؤمن الذي بشبع
وجاره جائع إلى جنبه
“Bukan mukmin sejati orang yang dalam kondisi kenyang sedangkan
tetangganya yang ada di sampingnya dalam kondisi kelaparan.” (HR. Al-Baihaqi
No. 20.160).
Dengan merasakan penderitaan tidak makan dan minum selama berpuasa,
mereka yang dianugerahi berupa jabatan, kekuatan, dan harta, akan menyadari
sebenarnya tidak ada perbedaan antara dirinya dengan orang-orang lemah, fakir,
dan miskin. Sebab, kapanpun Allah Swt. menghendaki, anugerah berupa jabatan dan
kekayaan dapat dicabut dari tangannya setiap saat. Mereka akan menjadi makhluk
yang lemah, kecil, dan meminta-minta belas kasihan dari orang lain.
Dengan puasa, seseorang akan menyadari bahwa dirinya adalah bagian dari
sebuah masyarakat. Hidup bersama, bersanding, dan berkumpul dengan mereka.
Lapar bersama mereka, berbuka bersama mereka, dan menghadiri sholat ‘Id bersama
mereka. Oleh karena itu, mereka akan segera tau apa kebutuhan mereka, seberapa
miskin mereka, dan bagaimana kelaparan menggigit mereka. Andaikan tidak ada
puasa, adakah mereka akan mengingat akan hal-hal demikian?
Hati orang yang berpuasa adalah hati yang paling tinggi dan mulia.
Paling dermawan dan paling dekat terhadap yang lain. Generasi Islam awal,
seperti Nabi Muhammad Saw., bila telah datang bulan Ramadhan, maka beliau
bagaikan angin yang berhembus bebas dalam menebarkan pemberian. Aisyah r.a.
dalam sehari pernah menginfakkan seratus ribu dirham kepada kaumnya, sedang ia
dalam kondisi berpuasa dan hanya memakai pakaian yang lusuh.
Pembantunya berkata, “Mengapa tidak kau sisakan untuk berbuka hari ini?”
Aisyah berkata, “Andai saja kau mengingatkan aku, pastilah aku sisakan.”
Demikian gambaran generasi Islam pertama. Bagaimana mereka melupakan
dirinya dan mengedepankan kepentingan orang lain. Demikianlah gambaran hati yang
mendapatkan pencerahan sebagai buah dari puasa yang dilakukannya.
Ketika puasa mengajarkan sikap amanah bagi pelakunya, dan penundukkan
kehendak nafsu (terutama pada tiga kebutuhan pokok: makan, minum, dan seks)
kepada pertimbangan akal. Maka, kedua hal tersebut akan membantu terwujudnya
kebaikan sosial. Karena, kebaikan sosial sangat tergantung pada dua hal,
ketertiban umum yang menjadi tanggung jawab pemerintah dan ketertiban pribadi
yang menjadi tanggung jawab setiap individu.
Dasar kejelekan adalah kecenderungan materialis diniawi, yang sering
mengundang perselisihan. Maka, nafsu harus diletakkan pada posisi tengah (wasath)
dengan pengawasan akal, agar tidak mudah terombang-ambing gelombang godaan.
Puasa yang memiliki efektivitas melemahkan nafsu sangat baik untuk membantu
meredam gejolak duniawi yang pada tataran tertentu dapat mengganggu stabilitas
umum.
Dengan begitu, jika puasa tidak membuat kita menjadi orang yang peka dan
peduli akan sosial, berarti ada yang salah dengan puasa dan diri kita!
Semoga
bermanfaat.
Wallahu a’lam.
Komentar
Posting Komentar