Puasa: Hikmah Psikologis
Oleh: Aqna Mumtaz Ilmi Ahbati
Sebelum membaca
tulisan ini, lebih baik membaca 2 seri tulisan sebelumnya: spiritual dan
sosial. Supaya sambung paham, terima kasih!
Pembahasan
selanjutnya, ialah puasa mempunyai hikmah psikologis. Segala ibadah apapun yang
didasari atas keridhoan Allah, pasti akan berbalas, selain pahala, adalah
ketenangan. Karena memang ibadah-ibadah adalah hal-hal fisioterapis. Olah jiwa,
pendekatan jiwa, dan pembersihan jiwa. Psikologis itu jiwa. Maka jika kita
beribadah, jiwa kita tentunya akan berdampak. Jiwa kita mendapat asupan.
Mental, emosi, sikap, sifat, dan apapun tentunya akan terawat dan sehat.
Perihal puasa
ini, sudah dibahas sebelumnya, merupakan ibadah yang memiliki aspek spiritual
yang sangat tinggi. Dengan begitu, bisa diartikan puasa akan berdampak besar
pula bagi diri kita. Terutama aspek psikologis ini. Karena saking pentingnya
psikologis bagi diri kita, karena memang tidak ada hal yang menjamin atau
bahkan menjual kata tenang, selain ibadah. Karena memang psikologis dan tenang
itu perihal metafisik.
Jadi,
perhatikan ibadah kita, puasa, serta pembahasan di buku Kearifan Syariat
ini:
3. Hikmah
Psikologis
Kebahagian dan
kesuksesan. Dua hal inilah yang menjadi tujuan hidup setiap manusia.
Faktor-faktor yang bisa menghantarkan meraih kedua hal tersebut ramai dicari
dan diburu. Dulu, diyakini kecerdasan intelektual merupakan kunci sukses.
Namun, fakta ribuan sarjana menganggur dan banyaknya pemimpin bangsa yang
berintelektual tinggi, tapi bermoral rendah dengan maraknya bermacam praktik
korupsi, membantah keyakinan ini. Selanjutnya, para pakar telah menemukan
bentuk kecerdasan lain dalam diri manusia. Kecerdasan itu dikenal dengan
kecerdasan emosional. Timbulah keyakinan bahwa yang menentukan kesuksesan
seseorang adalah kecerdasan emosional ini.
Daniel Goleman,
seorang ahli dan peneliti tentang kecerdasan emosi, mengisahkan sebuah kisah
menarik. Dalam sebuah penelitian, dikumpulkanlah anak-anak berusia empat tahun
di Taman Kanak-Kanak Stanford. Mereka diminta satu per satu masuk ke dalam
sebuah ruangan, dengan sepotong marshmallow yang diletakkan di atas meja
di hadapan mereka, “Kalian boleh memakan marshmallow jika mau. Tetapi,
kalau kalian memakannya setelah say kembali lagi ke sini, kalian berhak
mendapat sepotong lagi.
Sekitar empat
belas tahun kemudian, sewaktu anak-anak lulus sekolah lanjutan atas, anak-anak
yang mampu menahan diri (sehingga mendapat potongan marshmallow) itu
memiliki ketahanan mental yang jauh berbeda antara satu dengan yang lain.
Mereka yang tahan menunggu hingga mendapatkan potongan marshmallow
tambahan cenderung lebih tahan terhadap stres, tidak mudah tersinggung, dan
tidak mudah berkelahi. Tidak demikian dengan anak-anak yang langsung
melahapnya. Mereka memiliki kecenderungan kurang tahan uji dalam mengejar
cita-cita mereka. Meski demikian, yang lebih mengejutkan para peneliti adalah
munculnya efek yang betul-betul tak terduga. Anak-anak yang mampu menahan diri
dalam ujian marshmallow, dibanding dengan yang tidak tahan, memperoleh nilai
rata-rata 210 lebih tinggi (dari nilai tertinggi 1.600) dalam ujian masuk
perguruan tinggi.
Ketika
anak-anak dari Taman Kanak-Kanak Stanford itu tumbuh menjadi dewasa dan
bekerja, perbedaan-perbedaan di antara mereka semakin mencolok.
Di penghujung
usia dua puluhan, mereka yang lulus uji marshmallow ketika kanak-kanak
tergolong anak yang cerdas, berminat tinggi, dan lebih mampu berkonsentrasi.
Mereka lebih mampu mengembangkan hubungan yang tulus dan akrab dengan orang
lain, lebih handal, lebih bertanggung jawab, dan kendali dirinya lebih baik
saat menghadapi frustasi.
Sebaliknya,
mereka yang melahap marshmallow sewaktu umur empat tahun, kemampuan
kognitif mereka kurang dan kecakapan emosinya lebih rendah dibanding dengan
kelompok yang tahan uji. Mereka lebih sering kesepian, kurang dapat diandalkan,
lebih mudah kehilangan konsentrasi, dan tidak sabar menunda kepuasan dalam
mengejar sasaran. Bila menghadapi stres, mereka hampir tidak mempunyai toleransi
dan pengendalian diri. Mereka tidak luwes dalam menghadapi tekanan, bahkan
sering mudah meledak dan hal tersebut menjadi kebiasaan mereka.
Fenomena ini
menunjukkan betapa penting pengendalian diri. Sebagai bagian dari bentuk
kecerdasan emosional secara umum yang diyakini sementara orang sebagai penentu
kesuksesan dan kebahagiaan. Sebagaimana kita tahu, puasa adalah arena
pengendalian diri yang sempurna. Dalam hal makan, yang menjadi kebutuhan
penting bagi setiap orang, diberikan aturan yang cukup ketat, mulai pagi hingga
sore hari. Dengan aturan yang begitu jelas, bisa dikatakan masyarakat muslim
telah hidup dalam dunia yang penuh aturan. Lebih-lebih ketika bulan Ramadhan.
Dengan demikian, umat Islam telah melakukan pengendalian diri secara
bersama-sama di bawah sebuah aturan yang mengatur.
Itu artinya,
umat Islam telah berusaha mewujudkan terbentuknya kecerdasan emosional, secara
bersama-sama yang menjadi penentu kesuksesan dan kebahagiaan. “Sungguh
menakjubkan, apakah di dunia ini ada aturan dan aktivitas bersama (isytirakiyyah
amaliyyah) yang menempatkan manusia dalam kondisi yang sama-sama lapar dan
sama-sama kenyang, seperti puasa di bulan Ramadhan?” Demikian kata Dr. Musthafa
As-Siba’i.
Dengan begitu,
jika puasa tidak membuat kita dapat mengendalikan diri dan raih tenang, berarti
ada yang salah dengan diri dan puasa kita!
Semoga
bermanfaat.
Wallahu a’lam.
Komentar
Posting Komentar