Ramadhan dan 2 Keistimewaan
Oleh: Aqna Mumtaz Ilmi Ahbati
Marhaban ya Ramadhan!
Marhaban ya Syahru Shiyam!
Ramadhan selalu berhasil menciptakan bahagia di hati setiap umat Islam.
Bahagia yang diartikan dengan makna tersendiri bagi setiap orang. Terbayang
semua akan malam-malam, hari-hari yang dilewatkan di dalam bulan Ramadhan:
berpuasa, sahur, berbuka, tarawih, tadarus, berbagi, kekeluargaan, dan segala
gegap gempita yang takan pernah ditemukan dan dirasakan di bulan-bulan lain.
Tentu hal ini sulit untuk dijelaskan.
Untuk Ramadhan sendiri, banyak hal yang bisa kita bahas. Dari segala sisi,
tentang segala hal. Tapi, perlu kiranya kita membahas tentang keistimewaan
bulan yang istimewa ini: Ramadhan. Setidaknya ada 2 keistimewaan: Nuzulul
Qur’an dan Lailatul Qadr!
Jika Rajab dikenal dengan bulan sholat dan Sya’ban dikenal dengan bulan
sholawat, Ramadhan dikenal dengan bulan Al-Qur’an. Karena memang, dalam
realitas sejarah, Al-Qur’an diturunkan di bulan Ramadhan.
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنٰتٍ
مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْقَانِۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُۗ
وَمَنْ كَانَ مَرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخَرَۗ
يُرِيْدُ اللّٰهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيْدُ بِكُمُ الْعُسْرَۖ
وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ
وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ
“Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai
petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta
pembeda (antara yang hak dan yang batil). Oleh karena itu, siapa di antara kamu
hadir (di tempat tinggalnya atau bukan musafir) pada bulan itu, berpuasalah.
Siapa yang sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib
menggantinya) sebanyak hari (yang ditinggalkannya) pada hari-hari yang lain.
Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran. Hendaklah
kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang
diberikan kepadamu agar kamu bersyukur.” (Al-Baqarah ayat 185).
Al-Qur’an adalah firman Allah yang diwahyukan kepada nabi Muhammad melalui
malaikat Jibril secara berangsur-angsur. Ayat pertama yang diturunkan ialah
Al-Alaq ayat 1-5 dalam pengasingan Nabi di gua Hira. Perihal ini, dalam buku Lentera
Kegelapan, tercatat setiap jejak dan peristiwa itu:
Tanggal 17 Ramadhan, dalam gua Hira yang remang-remang,
tangan lembut malaikat utusan tuhan menyentuh dada Nabi Muhammad Saw. yang
telah memasuki usia empat puluh tahun. Malaikat itu mulai mengeluarkan
suaranya, lembut namun menggetarkan jiwa suami Khadijah yang berdiri mematung.
“Ya Allah ringankan bebannya, lapangkanlah
dadanya, dan bersihkanlah hatinya. Wahai Nabi Muhammad, bergembiralah!
Sesungguhnya engkau adalah seorang Nabi bagi umat ini.”
Sosok itu begitu tenang dan fasih menyuarakan kalimatnya.
Ia kemuadian melanjutkan,
“Bacalah!”
“Aku sama sekali tidak bisa membaca dan menulis.” Jawab
Nabi dengan perasaan tak menentu.
Malaikat itu kemudian mendekap Nabi, mencoba meneguhkan
hati Nabi Muhammad Saw.
“Bacalah!” Ia mengulangi perintahnya.
“Aku sama sekali tidak bisa membaca dan
menulis.” Nabi masih juga memberikan jawaban yang sama.
Rasulullah masih belum memahami apa yang dikehendaki
tamunya ini. Kini sosok itu kembali mendekap beliau. Dekapan kedua ini lebih
kuat dari yang pertama hingga membuat beliau merasa sesak untuk bernafas.
Sesaat kemudian dekapan itu dilepaskan dan perintah yang sama kembali keluar
dari mulut malaikat itu.
“Bacalah!”
“Aku sama sekali tidak bisa membaca dan
menulis.” Jawaban ketiga ini adalah penandas dari Nabi Muhammad Saw.
Teduhnya malam Ramadhan menjadi saksi bagi pertemuan dua
makhluk mulia ini. Mereka kini duduk berhadapan di ruang tengah gua.
Dinding-dinding gua membisu seolah ingin menyimak baik-baik percakapan mereka
berdua. Jalan setapak menuju gua tergeletak diam seperti ular memamerkan punggungnya,
merambati bukit batu. Bebatuan yang berada di sekitar gua khidmat dalam
kebisuannya, teronggok di luar seperti seorang pengawal menunggu majikannya
melakukan pertemuan di ruang tertutup. Sementara di dalam gua, malaikat itu
begitu kagum dengan cahaya kenabian yang terpancar dari Nabi Muhammad Saw. Begitu
elok bagai intan-intan menghiasi tubuh pemakainya. Sambil duduk berhadapan,
Nabi Muhammad Saw. kembali diberi perintah untuk membaca. Namun perintah itu
kini lebih tegas dan tersusun dalam beberapa kalimat.
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang
menciptakan! Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah! Dan
tuhanmulah yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantara kalam.
Dia mengajar manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al-Alaq: 1-5)
Lalu, sedikit timbul pertanyaan, “kenapa
Al-Qur’an diturunkan secara berangsur-angsur?” Mudah saja, Allah telah
menjawabnya dalam surat Al-Furqan ayat 32 yang berbunyi:
وَقَالَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا لَوْلَا نُزِّلَ
عَلَيْهِ الْقُرْاٰنُ جُمْلَةً وَّاحِدَةًۛ كَذٰلِكَۛ لِنُثَبِّتَ بِهٖ فُؤَادَكَ
وَرَتَّلْنٰهُ تَرْتِيْلًا
“Orang-orang yang kufur berkata, “Mengapa
Al-Qur’an itu tidak diturunkan kepadanya sekaligus?” Demikianlah, agar Kami
memperteguh hatimu (Nabi Muhammad) dengannya dan Kami membacakannya secara
tartil (berangsur-angsur, perlahan, dan benar).”
Sungguh, begitu mulia Al-Qur’an: sebuah kitab
yang mulia dari yang Maha Mulia yang diperantarakan kepada malaikat yang paling
mulia untuk manusia yang paling mulia. Sungguh, merugi bagi orang yang tidak
membaca Al-Qur’an, terutama pada bulan yang penuh kemuliaan.
Padahal tiada meruginya, begitu beruntungnya
jika kita membaca Al-Qur’an, terutama pada bulan Ramadhan. Bukan karena apa, di
bulan Ramadhan, Allah sedang berhambur-hambur ganjaran dan ampunan untuk hamba-Nya
yang beribadah.
عَنْ عَبْد اللَّهِ بْنَ مَسْعُودٍ رضى الله عنه
يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ
كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لاَ
أَقُولُ الم حرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ.
“Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu anhu
berkata: “Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: Siapa yang membaca
satu huruf dari Al-Qur'an maka baginya satu kebaikan dengan bacaan tersebut,
satu kebaikan dilipatkan menjadi sepuluh kebaikan semisalnya dan aku tidak
mengatakan الم
satu huruf akan tetapi Alif satu huruf, Laam satu huruf dan Miim satu huruf.”
(HR Tirmidzi)
Perihal Lailatul Qadr, hal ini merupakan yang
dimpi-impikan oleh setiap umat muslim. Karena betapa besar anugerah di malam
itu. Bahkan Allah sampai menurunkan sebuah surat penuh tentang malam yang lebih
baik dari seribu bulan.
اِنَّآ اَنْزَلْنٰهُ فِيْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ ١وَمَآ اَدْرٰىكَ مَا
لَيْلَةُ الْقَدْرِۗ ٢لَيْلَةُ الْقَدْرِ ەۙ خَيْرٌ مِّنْ اَلْفِ شَهْرٍۗ
٣تَنَزَّلُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ وَالرُّوْحُ فِيْهَا بِاِذْنِ رَبِّهِمْۚ مِنْ كُلِّ
اَمْرٍۛ ٤سَلٰمٌۛ هِيَ حَتّٰى مَطْلَعِ الْفَجْرِࣖ ٥
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada
Lailatul Qadr. Tahukah kamu apakah Lailatul Qadr itu? Lailatul Qadr itu lebih
baik daripada seribu bulan. Pada malam itu turun para malaikat dan Rūḥ (Jibril)
dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan. Sejahteralah (malam) itu
sampai terbit fajar.”
Lailatul Qadr begitu mulia karena sebagai pertanda pada
malam itu menjadi malam diturunkannnya Al-Qur’an. Ya, karena pada tanggal
diturunkannya Al-Qur’an, pada tanggal 17 Ramadhan bertepatan dengan malam
Lailatul Qadr. Sejak dahulu, Rasulullah telah memberikan ciri-ciri dan pertanda
Lailatul Qadr.
فقد سئل رسول الله صلى الله عليه وسلم عن علاملت
ليلة القدر فقال هي ليلة بلجة اي مشرقة نيرة لاحارة ولا باردة ولاسحاب فيها ولامطر
ولاريح ولايرمى فيها بنجم ولاتطلع الشمس صبيحتها مشعشة
“Rasulullah SAW pernah ditanya tentang tanda-tanda
Lailatul Qadr, maka beliau bersabda: Yaitu malam yang terang dan bercahaya,
udaranya tidak panas dan tidak dingin, tidak ada mendung tidak ada hujan, tidak
ada gerak angin dan tidak ada bintang yang dilempar. Paginya matahari terbit
dengan terang tapi tidak terlalu memancar.”
Bagaimana cara agar mendapatkan Lailatul Qadr? Jika kita
berkaca pada orang-orang yang mendapatkan Lailatul Qadr, banyak cara dan
gambaran. Karena setiap orang tidak selalu sama dalam mendapatkan malam yang
mulia itu. Mungkin bisa dengan mudah, dalam suatu kesempatan Rasulullah sempat
memberikan cara agar mendapatkan Lailatul Qadr.
عَنْ عَائِشَةَ رَضِىَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ
رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : تَحَرَّوْا لَيْلَةَ
الْقَدْرِ فِى الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ.
“Dari Aisyah RA
bahwa Rasulullah SAW bersabda, ‘Carilah Lailatul Qadar pada malam ganjil dalam
sepuluh terakhir di bulan Ramadhan,” (HR Bukhari).
Maka dari itu, betapa sudah menjadi tradisi jika setiap sepuluh
malam terakhir bulan Ramadhan, masjid-masjid selalu dipenuhi oleh orang-orang
yang beri’tikaf. Membaca Al-Qur’an, berdzikir, berokaat-rokaat sholat sunah.
Tapi, bukan berarti Lailatul Qadr hanya bisa didapat di sepuluh malam terakhir
bulan Ramadhan dan tidak bisa di tanggal awal atau pertengahan Ramadhan. Bukan
berarti kita hanya semangat dan bersungguh-sungguh ibadah hanya pada sepuluh
malam terakhir bulan Ramadhan. Tidak seperti itu.
Apapun yang terjadi, semoga Allah meridhoi kita di
Ramadhan ini dan masih diberi kesempatan untuk dipertemukan dengan Ramadhan
berikutnya. Aamiin.
Wallahu a’lam.
Komentar
Posting Komentar