Puasa: Hikmah Spiritual
Oleh: Aqna Mumtaz Ilmi Ahbati
Suatu hari, penulis ini membaca sebuah buku. Tidak ada maksud apa-apa,
selain karena memang murni ingin baca buku. Kebetulan, untuk edisi baca buku
kali ini tidak seperti biasanya: tidak ada sruput kopi atau hanya sekedar cemil
jajanan. Karena memang, ini Ramadhan! Puasa!
Hingga, di detak detik yang kesekian, penulis ini begitu sulit konsisten
akan bacaannya. Bukan karena apa, keterangan pada suatu lembar di buku Kearifan
Syariat karya Forum Kalimasada (Kajian Ilmiah Tamatan Siswa 2009) Pondok
Pesantren Lirboyo, memaksa penulis yang sedang membaca ini untuk kembali
menulis. Apalagi keterangan di buku itu adalah perihal Ramadhan, termasuk
puasa. Salah satu pertanyaan yang mengusik, “Sebenarnya hikmah apa yang didapat
dari berpuasa?”
Pertanyaan tersebut dijawab dengan mudah oleh buku tersebut, setidaknya ada
4 hikmah yang didapat saat kita berpuasa: Spiritual, Sosial, Psikologis, dan
Medikal.
Dengan kenyataan bahwa pembahasannya begitu panjang untuk dijadikan satu
judul tulisan, juga dirasa rugi jika harus sampai meringkasnya, dengan
inisiatif penuh, dari keempat hikmah puasa tersebut dijadikan satu sub
pembahasan tersendiri. Menjadi judul tulisan tersendiri.
Di sisi lain, terbitnya tulisan ini bukan bermaksud untuk menambahi,
mengurangi, mengkritik, ataupun membandingi antara opini pribadi dengan buku
kajian ini. Tidak, sama sekali tidak. Benar-benar tidak ada sopan jika hal itu
terjadi. Ini hanya sebagai bentuk pengantar tersampainya hasil pemikiran dari
orang-orang yang luar biasa kepada kalian, para pembaca yang beruntung. Karena
mungkin saja belum berkesempatan memiliki dan membaca buku itu langsung.
Ini pembahasan buku itu, mari belajar bersama!
1. Puasa: Hikmah Spiritual.
Tentu, setiap ibadah pasti bermakna spiritual.
Tapi, puasa adalah salah satu ibadah yang memiliki nilai spiritual yang kental.
Bahkan, satu-satunya. Kenapa begitu? Karena puasa memang merupakan ibadah yang
benar-benar berhadap dan terhubung dengan Allah. Bahkan, KH. Husein Muhammad
dalam bukunya, Islam, menyebutkan: “puasa sepenuhnya merupakan momen
spiritualitas dan cara pengabdian kepada Tuhan paling eksklusif.”
Itu kenapa, seringnya kita mendengar:
الصوم لي وأنا أجزى به
“Puasa adalah milikku dan aku akan
membalasnya.”
Eksklusif dimaksudkan, karena memang setiap
semua tindakan manusia dapat diidentifikasi dan dinilai oleh manusia sendiri,
kecuali puasa, lanjut KH. Husein Muhammad. Memang, hanya kita dan Allah yang
mengetahui puasa itu sendiri.
Dalam buku Kearifan Syariat, setidaknya ada 6
hal terkait hikmah spiritual dalam puasa:
1. Peran Puasa Dalam Meningkatkan Ketakwaan
Ketika menjalankan puasa, kita dituntut untuk menahan sesuatu yang menjadi
kebutuhan esensial nafsu. Selama sehari penuh, kita dilatih untuk mengendalikan
keinginan makan dan minum agar kita terlatih untuk menjauhin dan menghindari
godaan nafsu untuk memiliki dan mengkonsumsi makanan dan minuman yang diperoleh
dengan praktik-praktik yang tidak halal. Seperti hasil korupsi, mencuri,
merampas, dan sebagainya. Hubungan seksual untuk sementara waktu juga
dikendalikan agar manusia terlatih mengendalikan nafsu libidonya sehingga
terhindar dari zina, onani, dan perselingkuhan. Dengan berhasil menahan diri
dari makanan dan kebutuhan seksual semata-mata karena taat kepada Allah Swt., diharapkan
kita akan lebih mampu untuk menahan diri dari perbuatan yang diharamkan dengan
didasari ketaatan kepada-Nya.
Dengan berpuasa, seseorang mempertegas komitmennya untuk memprioritaskan
perintah Allah Swt. dan mengalahkan kesenangan nafsu. Inilah hikmah paling
subtansial dari puasa yang ditandaskan oleh Al-Qur’an, yaitu mencetak generasi umat
yang bertakwa. Predikat takwa sendiri hanya disematkan kepada mereka yang
menjalankan perintah Allah Swt. dan menjauhi larangan-Nya. Allah berfirman,
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ
عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ
تَتَّقُوْنَۙ
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas
kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu
bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183).
2. Mawas Diri (Muraqabah) Untuk Mewujudkan Kebaikan Bersama
Puasa juga bertujuan menumbuhkan perasaan senantiasa diawasi oleh Allah
Swt. Ketika kita sendirian di tempat sepi merasakan lapar dan dahaga, kita
memiliki kesempatan untuk makan dan minum tanpa sepengetahuan orang lain.
Namun, kita bersikeras untuk tidak melakukannya. Keyakinan masih ada Dzat yang
memantau semua perilaku kita, mampu menumbuhkan komitmen moral untuk
menyempurnakan ibadah puasa kita selama sebulan penuh. Andaikan semua orang
mempertahankan sikap seperti ini secara berkesinambungan hingga di selain bulan
Ramadhan, akan tercipta sebuah tatanan sosial yang selama ini dicita-citakan.
Tidak akan terjadi tindakan melawan norma, hukum, dan garis serta tatanan hidup
lainnya. Semua orang merasa diawasi oleh Allah Swt. dan harus
mempertanggungjawabkan seluruh amal perbuatan di hadapan-Nya.
Dalam bermasyarakat, Rasulullah menggambarkan setiap anggota masyarakat
harus menjaga keselamatan orang lain dengan cara menahan diri dari berbuat
kejahatan. Ibarat seseorang yang menaiki perahu di tengah samudra, setiap
penumpang harus menahan diri dari melakukan hal-hal yang dapat membahayakan keselamatan
bersama. Ketika ada seorang yang melakukan kejahatan dengan cara melubangi
kapal, maka benar jika yang dikatakan salah adalah si pelaku aja. Namun,
bukankah yang menjadi korban adalah seluruh penumpang kapal? Begitu pula dalam
hidup bermasyarakat. Setiap elemen diharapkan menahan diri dari berbuat
kejahatan. Ketika ia berbuat kejahatan, benar yang salah adalah si pelaku
sendiri. Namun, bukanlah yang jelek adalah masyarakat di sekitar pelaku? Maka,
menjadi kewajiban setiap individu masyarakat, menjaga diri, dan orang lain dari
perbuatan jahat di tengah kehidupan bermasyarakat.
3. Pesan Untuk Bersyukur
Puasa juga melatih kita agar senantiasa bersyukur atas nikmat yang telah
diberikan oleh Allah Swt. Seseorang baru menyadari betapa besar nilai sesuatu
pada saat dia kehilangan. Dengan tidak merasakan makan dan minum selama
berpuasa, kita akan menyadari betapa besar karunia Allah selama ini. Kita
senantiasa diberi kesehatan dan kelapangan rizki sehingga bisa merasakan
nikmatnya makanan dan minuman.
4. Pesan Untuk Bersikap Amanah
Dalam menjalankan puasa, seseorang tidak dapat dinilai secara lahirnya
saja. Orang yang tampak lesu di siang hari bulan Ramadhan belum tentu kalau dia
benar-benar berpuasa. Orang yang tampak segar bugar juga tidak bisa kita tuduh
sebagai orang yang tidak berpuasa. Ketika dalam keadaan sendiri, seseorang
memiliki kesempatan melakukan pelanggaran dengan cara makan atau minum tanpa
sepengetahuan orang lain. Maka, puasa dalam hal ini telah menjadi satu hal yang
dipercayakan (baca: diamanahkan) kepada seorang hamba. Nabi Saw. bersabda,
إن الصوم أمانة فليحفظ
أحدكم أمانته
“Sesungguhnya, puasa adalah amanah, maka hendaknya
masing-masing kalian menjaga amanahnya.”
Jadi, dengan puasa, berarti seseorang telah
membiasakan diri bersikap amanah dalam hidupnya. Dan hendaknya hal ini disadari
oleh setiap pelaku puasa.
5. Penguatan Unsur Malakiyah Manusia
Diakui bersama bahwa manusia tidak hanya tersusun dari darah dan daging,
sehingga tujuan hidupnya hanya sekedar memenuhi tuntutan keduanya. Dalam diri
manusia, terdapat hakikat lain selain kedua unsur materi di atas. Unsur lain
itu bersifat abstrak, nonmateri, dan mulia. Unsur lain tersebut adalah
sifat-sifat khas malaikat, ruh, dan hati yang tidak dimiliki makhluk lain di
muka bumi.
Ketika manusia melupakan unsur esensial ini, maka ia hanya akan menjadi
makhluk yang tidak bernilai dan tidak lebih dari hewan-hewan melata lainnya.
Unsur hewani adalah rendah dan hina, sedang unsur ruhiyyah malakiyah adalah
mulia. Maka, sudah sepantasnya unsur yang mulia dimuliakan dan unsur yang hina
direndahkan dan ditindas oleh unsur yang mulia. Karena bila unsur hina menjadi
dominan, maka yang ada hanyalah sosok hewan, bukan manusia yang dapat mengatur
dan memakmurkan dunia. Padahal, sudah menjadi titah Allah, menjadikan manusia
sebagai khalifah yang mengatur dunia. Jika semua manusia hanya mengunggulkan
dimensi hewaninya, niscaya apa yang dikatakan para malaikat adalah benar.
“Mereka (para malaikat) berkata, ‘Apakah engkau menjadikan orang-orang yang
berbuat kerusakan dan mengalirkan darah, padahal kami senantiasa mensucikan-Mu
dengan memuji-Mu dan membersihkan-Mu.” (QS. Al-Baqarah: 30). Padahal, sudah
ditegaskan bahwa Tuhan telah menetapkan hikmah-Nya dalam penciptaan manusia.
Manusia tidak selalu memiliki potensi, namun keberadaannya telah dibekali
kemampuan konstruktif, yakni akal dan hati.
Allah berfirman: “Sesungguhnya aku lebih tahu apa yang kalian tidak
ketahui.” (QS. Al-Baqarah: 30).
Jadi, dengan berpuasa, seseorang berusaha membatasi unsur hewaninya (makan,
minum, dan seks) dan secara bersamaan memantapkan kekuatan ruhaniyahnya.
6. Melatih Kesabaran
Makna kesabaran dalam puasa sudah sangat jelas. Dalam sehari penuh,
seseorang dilatih mengendalikan kesabaran dengan cara menahan makan, minum, dan
sebagainya. Itu semua dijalankan secara suka rela tanpa ada paksaan. Tentu
saja, dalam hal ini terdapat latihan kesabaran tingkat tinggi. Namun, yang
perlu dicatat, kesabaran yang dimaksud bukan hanya ketika sedang menjalankan
puasa, melainkan harus senantiasa dijaga konsistensinya meskipun pada
waktu-waktu tidak berpuasa. Pembiasaan ini sangat baik, untuk menekan angka
kemaksiatan dalam masyarakat.
Puasa menjawab pertanyaan mendasar tentang penyimpangan-penyimpangan
perintah Tuhan. Mengapa seorang mencuri, membunuh, atau berselingkuh? Semua
didasarkan pada masalah kesabaran pribadi masing-masing. Seseorang mencuri
karena tidak tahan atas apa yang menimpanya dalam masalah ekonomi. Seseorang
membunuh, karena ia tidak tahan untuk menghadapi masalah dan emosi yang
menghampirinya. Seseorang berbuat zina tentu karena ia tidak mampu bersabar
mengendalikan libidonya. Maka, bulan Ramadhan adalah bulan pembelajaran
terhadap masing-masing individu untuk bersabar dalam mengendalikan diri.
Dengan begitu, jika puasa tidak menjadikan kita sadar dan takwa, berarti
ada yang salah dengan diri dan puasa kita!
Semoga bermanfaat.
Wallahu a’lam.
Komentar
Posting Komentar