Kenapa Kita Berpuasa?
Oleh: Aqna Mumtaz Ilmi Ahbati
Puasa ditetapkan bagi umat ini. Ya, kita semua harus berpuasa di Bulan Ramadhan. Jika telah memenuhi syarat untuk melaksanakan
puasa, maka berpuasalah. Jangan sampai tidak, atau siksa pedih yang tidak akan
dibahas itu akan menimpa. Kecuali uzhur.
“Emang uzhur puasa, apa?”
Eits, kita tidak akan membahas itu. Next time, oke.
Sejak dulu, sejak kecil, mungkin saat TPQ ngaji lekar, kita sudah diberi
tau dan disuruh akan berpuasa. Diajarkan waktunya, syaratnya, hingga do’a-do’a
dan dihafal. Atau mungkin juga akan pesantren dan hal-hal yang mendalam tentang
puasa dalam bathsul masail. Furu’-furu’ serta khilaf-khilaf.
Tapi, apakah kita tau, kenapa kita berpuasa? Kita mungkin sering mendengar
dalam khutbah menjelang Ramadhan, artikel islami ilmiah, hingga kultum-kultum
saat berbuka bersama di masjid.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا
كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ.
“Wahai orang-orang beriman,
diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum
kamu. (Berpuasa) agar kamu bertakwa.”
Ayat itu dibacakan dan dijelaskan dengan sebegitu menggebu berharap
tersebar pula gebu di hati kita saat mendengar, lalu jadi semangat puasa.
Belum lagi dijelaskan bahwasanya kita berpuasa, selain perintah Allah, juga
untuk merasakan menjadi orang lemah yang lapar. Sebagaimana banyak kita temukan
di redaksi kitab-kitab karangan salaffuna sholeh sebagai hikmah berpuasa
yaitu untuk ikut merasakan lapar dahaganya orang yang kurang mampu.
Ternyata tak hanya itu, Syekh Utsman bin Hasan bin Ahmad Asy-Syakir
Al-Khaubawi menjelaskan dalam kitabnya Durrotun Nashihin mengenai hal ini,
قيل المراد بالصوم قهر عدوالله فاءن وسيلة الشيطان
بالشهوة وانما تقوى الشهوات بالاءكل والشرب فلايستفاد من الصوم قهر عدوالله تعالى
وكسر الشهوات الا بتذليل النفس بقلة الاءكل ولذاروي في مثروعية الصوم ان الله
تعالى خلق العقل, فقال اقبل فاءقبل ثم قال ادبر فاءدبر ثم قال من انت ومن انا؟ قال
العقل انت ربي وانا عبدك الضعيف, فقال الله تعالى ياعقل ما خلقت خلقا اعذ منك ثم
خلق الله تعالى النفس فقال لهم اقبلى فلم تجب ثم قال لها من انت ومن انا؟ فقالت
اناانا وانت انت فعذبها بنار جهنم مائة سنة ثم اخرجها فقال من انت ومن انا
فاءجابته كالاءول ثم جعلها في نار الجوع مائة سنة فساءلها فاءقرت باءنها العبد
وانه الرب. فاءوجب الله تعالى عليها الصوم بسبب ذلك
“Ada yang mengatakan bahwa, tujuan
dari puasa itu adalah untuk menundukkan musuh Allah. Karena jalan setan itu
lewat syahwat. Padahal, syahwat itu menjadi kuat karena makan dan minum. Maka
puasa itu tidak akan berguna untuk menundukkan musuh Allah Taala dan
menghancurkan syahwat kecuali dengan menaklukkan nafsu dengan sedikit makan.
Oleh karena itu, ada riwayat berkaitan dengan
disyariatkannya puasa, bahwa Allah Taala menciptakan akal, lalu berfirman
kepadanya: “Menghadaplah!” Maka akal itu pun menghadap. Kemudian Allah
berfirman pula kepadanya: “Membelakanglah!”. Maka akal itu pun membelakang.
Setelah itu Allah bertanya : “Siapakah engkau dan siapa Aku?”, Akal menjawab :
“Engkau adalah Tuhanku dan aku adalah hamba-Mu yang lemah”. Maka Allah Taala
berfirman : “Hai akal, Aku tidak menciptakan satu makhluk pun yang lebih mulia
daripada engkau”.
Kemudian Allah Taala menciptakan nafsu, lalu
berfirman kepadanya : “Menghadaplah!” Namun nafsu itu tidak mematuhi. Lantas
Allah bertanya kepadanya : “Siapakah engkau dan siapakah Aku?”. Nafsu menjawab
: “aku adalah aku dan Engkau adalah Engkaul”. Maka Allah Taala lalu mengazabnya
dengan siksa api neraka selama seratus tahun. Kemudian Allah mengeluarkannya
dari neraka dan bertanya kembali kepadanya : “Siapa engkau dan siapa Aku?”.
Nafsu tetap menjawab seperti jawabannya semula. Maka diazablah ia di dalam
neraka lapar selama seratus tahun pula. Setelah itu, Allah bertanya kembali
kepadanya, barulah dia mengaku bahwa dirinya adalah hamba dan Allah adalah
Tuhan. Maka oleh sebab itu, Allah lalu mewajibkan puasa atasnya.”
Dikatakan pula,
قيل الحكمة في فرضية الصوم ثلاثين يوما ان ابانا ادم
عليه الصلاة والسلام لما اكل في الجنة من الشجرة بقي في جوفه مقدار ثلاثين يوما
فلما تاب الى الله تعال امره بصوم ثلاثين يوما بلياليها لاءن لذة الدنيا اربعة:
الطعام والشرب والجماع والنوم فاءنها حجاب للعبد عن الله تعالى وفرض على محمد و
امته بالنهار وابيح الاءكل بالليل وهو فضل منالله تعالى وكرم علينا
“Ada yang mengatakan bahwa, hikmat dari
diwajibkannya puasa selama tiga puluh hari itu adalah karena datuk kita Adam
as. dahulu, ketika Beliau memakan buah pohon yang terlarang di dalam surga,
buah tersebut tetap tinggal di dalam perutnya selama tiga puluh hari. Dan
ketika Beliau bertobat kepada Allah Taala, maka Allah menyuruhnya agar berpuasa
selama tiga puluh hari tiga puluh malam. Karena kelezatan dunia itu ada empat:
makan, minum, jima’, dan tidur. Semuanya itu merupakan penghalang bagi hamba
terhadap Allah Ta’ala. Sedangkan atas Nabi Muhammad saw. dan umatnya, Allah
Taala mewajibkan puasa pada siang hari saja, dan diperbolehkan makan, minum dan
jima’ pada malam harinya. Hal mana merupakan karunia dari Allah Ta’ala dan
kemuliaan bagi kita.”
Wallahu a’lam.
Komentar
Posting Komentar