Awal Keuntungan di Awal Ramadhan
Segala sesuatu perlu diperhatikan permulaannya. Awal menjadi potret akhir suatu perkara. Baik atau buruk. Langkah awal adalah penentu langkah-langkah berikutnya. Perlu diperhatikan, betapa pentingnya permulaan. Syekh Musthofa Al-Gholayini berkomentar dalam kitabnya, Idhotunnasyi’in:
تنبه للحادث الاول فاءن فيه الصعود او الهبوط, والتقدم او التاءخر والموت
او الحيات
“Ingatlah, terhadap tragedi atau kejadian yang pertama kali terjadi,
sebab kejadian pertama itu terdapat grafik naik, turun, mundur, bahkan mati
atau hidup.”
Beliau melanjutkan,
النتائج تتبع المقدمات فساداوصلاحا, فاءذاصلحت المقدمات صلحت النتائج وان
فسدت فسدت
“Akibat atau kesudahan segala sesuatu, baik atau buruk itu mengikuti baik-buruk permulaannya.
Apabila permulaan sesuatu itu baik, maka dapat dipastikan hasil akhir sesuatu
itu baik pula. Sebaliknya jika permulaan itu buruk, maka hasil atau kesudahan
perkara itu juga buruk.”
Bahkan, dalam hal ibadah sekalipun kita juga harus memperhatikan dan memulainya dengan baik. Pada bulan Ramadhan kali ini pun, tak boleh
luput dari pandangan kita. Sejak jauh-jauh hari, para Ulama begitu
merindu-rindukan datangnya Ramadhan. Mereka menanti-nantinya. Hingga, tiba masanya, Ramadhan itu tiba,
betapa berbuncalah hati mereka. Penuh syukur, masih diberi umur panjang sampai
Ramadhan. Mereka bershodaqoh, berbuat baik, tebar senyum, dan bersiap menghadapi Ramadhan dengan penuh kesungguhan
ibadah kepada Allah Swt. Semoga kita bisa meniru jejak langkah mereka.
Dengan hal itu pun, Allah Swt tak segan-segan menyambut para hambanya
dengan raih gembira mereka akan Ramadhan. Dan kitab Durrotunnasyi’in,
Syekh Utsman bin Hasan bin Ahmad Asy-Syakir Al-Khaubawi menjelaskan:
وعن ابن عباس عن النبي عليه الصلاة و السلام انه قال: اذا كان اوال يوم من رمضان
هبت ريح من تحت العرش يقال لها المثيرة وتتحرك اوراق اشجار الجنة فيسمع من ذلك صدى
لم يسمع السامعون احسن منه فتنظرا الحور العين الى ذلك فيقلن: اللهم اجعل لنا في
هذا الشهر من عبادك ازواجا فما من عبد صام رمضان الا زوجه الله تعالى زوجه من الحور
في الحيمة كما قال الله تعالى في كلامه القديم (حور معصورات في الحيام) و على كل
حوراء منهن سبعون حلة ليست على لون واحد ولكل امراءة سرير من ياقوتة حمراء منسوج
بالدر وعلى كل سرير سبعون فراشا و سبعون مائدة من الوان الطعام هذا لمن صام رمضان
سوى ما عمل من الحسنات. فينبغي للمؤمن ان يحترم شهر رمضان و يحترز من المنكرات
ويشتغل بالطاعات من الصلاة والتسبيح والتذكير وتلاوةالقران
Dan dari Ibnu Abbas ra, dari Nabi saw, bahwa Beliau bersabda :
“Apabila tiba hari pertama bulan Ramadan, bertiuplah angin dari bawah
Arsy yang disebut angin “mutsirah”, lalu bergoyanglah daun-daun
pepohonan surga. Karena gerakan daun-daun tadi, maka terdengarlah suara gema
yang belum pernah terdengar oleh seorang pun suara gema yang lebih indah dari
itu. Maka para
bidadari pun memperhatikan itu seraya berkata: “Ya Allah, jadikanlah untuk kami
pada bulan ini suami-suami dari
hamba-hamba-Mu”
Maka, tidaklah seseorang hamba pun berpuasa pada bulan Ramadan, melainkan
Allah akan mengawinkan dengan seorang istri dari kalangan bidadari-bidadari
tersebut di dalam sebuah mahligai. Sebagaimana firman Allah di dalam Al-Qur’an: (Bidadari-bidadari yang cantik jelita lagi putih bersih yang
dipingit di dalam mahligai). Sedangkan setiap bidadari itu mengenakan tujuh
pakaian yang warnanya berbeda-beda. Dan untuk setiap wanita ada sebuah ranjang
terbuat dari mira delima bertahtakan mutiara, pada setiap ranjang terdapat
tujuh puluh kasur dan tujuh puluh hidangan dari bermacam-macam makanan. Ini semua adalah untuk orang yang berpuasa
pada bulan Ramadan, selain (pahala) amal-amal kebajikan lainnya yang telah
dilakukannya.
Karenanya, sudah selayaknya bagi seorang mukmin, menghormati bulan Ramadan
dan menjaga diri dari perbuatan-perbuatan keji, serta menyibukkan diri dengan
perbuatan-perbuatan bakti
kepada Allah, berupa salat, membaca tasbih, berzikir dan membaca Al-Quran.
Wallahu a’lam.
Komentar
Posting Komentar